Lamer | Jakarta – Buron KPK, mantan Sekretaris Mahkamah Agung (MA) Nurhadi, belum juga ditemukan. Nurhadi diburu atas dugaan korupsi Rp 46 miliar.

Bukan hanya Nurhadi yang diburu. Juga menantunya, Rezky. Mereka tidak pernah hadir kala dipanggil KPK.

Rumah Nurhadi di Jalan Hang Lekir, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Besar. Megah. Membentang dari Jalan Hang Lekir V hingga Jalan Hang Lekir VIII.

Nomor rumah di Jalan Hang Lekir V adalah Nomor 6, sedangkan di Jalan Hang Lekir VIII adalah Nomor 2. Dua muka.

Sepanjang rumah itu ditutup pagar berwarna hijau setinggi 2 meter. Bentuknya dua lantai memanjang.

Menurut situs jual-beli properti, rumah di kawasan itu umumnya dijual di atas Rp 20 miliar. Ke Senayan City, cukup jalan kaki 5 menit.

Berdasarkan LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) Nurhadi, ada 4 mobil mewah.

Yaitu Jaguar, MINI Cooper, Lexus, dan Camry.

Dalam LHKPN itu, Nurhadi juga menyebut hartanya berasal dari giro dan setara kas lainnya yang mencapai Rp 10,7 miliar.

Jadi total harta kekayaan yang dimilikinya mencapai Rp 33,4 miliar.

Pada Desember 2019, Nurhadi ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi ‘mafia pengadilan’ dengan nilai suap-gratifikasi senilai Rp 46 miliar.

KPK memanggil Nurhadi dan anak keturunannya untuk diperiksa, berstatus tersangka.

Ternyata, Nurhadi sekeluarga kompak tidak menghadiri panggilan pemeriksaan KPK.

Yaitu Nurhadi, Tin, anaknya (Amalia), dan mantunya (Rezky). Akhirnya, Nurhadi dan Rezky dinyatakan buron oleh KPK.

Sebelumnya, kuasa hukum Nurhadi, Maqdir Ismail, keberatan atas status DPO (Daftar Pencarian Orang alias buron) kliennya.

Maqdir menilai KPK terlalu gegabah. “Pak Nurhadi ada di Jakarta,” kata Maqdir Ismail.

Dalam kondisi begitu, muncul organisasi dalam publikasi.

Masyarakat Anti Korupsi Indonesia (MAKI) menggelar sayembara berhadiah iPhone 11 bagi yang bisa menginformasikan keberadaan Nurhadi.

Ketua MAKI, Boyamin Saiman, kepada wartawan, Selasa (18/2/2020) mengatakan:

“Ada yang memberikan informasi, ‘Selamat malam, maaf mengganggu, saya membaca informasi terkait pencarian Nurhadi sebagai DPO KPK. Mohon izin sekiranya saya ingin membantu, coba dicari orang tersebut di daerah Yogyakarta.’ Disampaikan lewat WhatsApp.”

Antusiasme masyarakat ini tidak hanya diikuti masyarakat biasa. Paranormal dan para dukun pun siap membantu pencarian Nurhadi.

“Sayembara ini menjadi bermanfaat dikarenakan banyak orang yang bersedia kontak dengan minta jaminan dilindungi identitasnya,” ujar Boyamin. (*)