Lamer | Jakarta – Soal banjir, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan lagi-lagi berpesan agar warga membangun drainase vertikal. Menurutnya, gerakan mengembalikan air ke tanah ini dapat mencegah banjir Jakarta.

Pesan ini kembali disampaikan Anies saat meresmikan selesainya renovasi Masjid Cut Nyak Dien, Jalan Johar, Gondangdia, Jakarta Pusat, pada Minggu 1 Maret 2020.
Acara peresmian renovasi Masjid Cut Nyak Dien ini juga turut dihadiri oleh Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) Syafruddin, Ustaz Abdul Somad (UAS).

Dalam sambutannya, Anies mengatakan masjid ramah lingkungan itu yang mampu mengalirkan air bekas pakainya kembali ke dalam tanah.

“Jakarta sedang musim hujan, artinya curah hujan intensif kalau kemarau curah hujan tidak intensif. Masjid merupakan tempat yang paling banyak menggunakan air. Mari jadikan masjid-masjid kita yang ramah lingkungan,” ujar Anies.

Dia berpesan kepada pengurus masjid agar memiliki sistem ramah lingkungan. Sehingga, air wudu yang sudah dipakai jamaah bisa kembali lagi ke dalam tanah dengan benar.

“Air diambil dari tanah, setelah wudu dikembalikan ke tanah,” kata Anies.

Apabila Masjid Cut Nyak Dien mampu menjadi masjid ramah lingkungan, Anies mengaku akan menjadikannya masjid percontohan.

“Kalau mau cari contoh datang saja ke cut nyak Dien. Saya berharap bisa jadi percontohan juga,” ucap Anies.

Pesan serupa pernah disampaikan Anies pada Tahun 2018. Saat itu, Anies saat itu mengingatkan soal drainase vertikal. Anies mengatakan jika air hujan dikembalikan lagi ke dalam tanah maka kecil kemungkinan terjadi banjir.

“Tanah kita tak lagi terbuka menangkap air hujan. Tanah kita tertutup oleh aspal, bangunan rumah, dan gedung, sehingga air yang diturunkan dari langit tak masuk ke bumi kita. Kita halangi air itu dari masuk ke bumi, apa dampaknya? Manusia merasakan dari tahun ke tahun hadirnya limpahan air yang kita sebut dengan banjir. Karena itu, mulai tahun ini, kita memulai gerakan untuk mengembalikan air hujan ke dalam bumi,” kata Anies di Monas, Jakarta, pada Selasa 20 November 2018.

“Jika setiap kita memasukkan air hujan ke dalam lubang di rumah kita, tanah kita, maka kita tak mengirimkan air hujan keluar dan insyaallah tak menghasilkan banjir,” sambungnya.

Anies juga menyinggung turunnya permukaan tanah di Jakarta setiap tahun. Penyebabnya, kata Anies, adalah tak adanya air hujan yang masuk ke tanah.

“Di Jakarta, setiap tahun permukaan tanah turun 7 sentimeter, mengapa turun? Karena air tanahnya kita sedot, sementara air tanahnya tak mendapat asupan dari langit yang turun lewat hujan. Efeknya tanah kita bumi kita di Jakarta turun 7 sentimeter per tahun. (Jika) Kita ulangi ini 10 tahun, 70 sentimeter tanah kita turun di Jakarta. Karena itu, untuk menyelamatkannya, kita mengembalikan pada sunatullah-nya, sunatullah-nya air hujan masuk ke dalam bumi,” ujar Anies.

Anies mengajak jemaah yang mengikuti Maulid Nabi untuk ikut gerakan membangun drainase vertikal. Harapannya air hujan tak mengalir ke luar rumah, tetapi kembali lagi masuk ke tanah.

“Maka itu, saya mengajak semuanya di sini, insyaallah Majelis Rasulullah ikut dalam gerakan ini, kita ingin membangun secara masif sumur-sumur drainase vertikal di rumah-rumah kita. Sehingga kita bisa menjawab bahwa kita tak termasuk dalam rombongan mereka yang mengirimkan air ke luar rumah. Insyaallah jika kita ditanya apakah air hujan kita dialirkan keluar, kita bisa jawab air hujan di rumah kami tak dialirkan keluar, tapi dialirkan ke dalam bumi,” katanya.

Mengenai drainase vertikal, Anies pernah mengatakan drainase vertikal akan dibuat di perkantoran hingga perkampungan.

“Pertama pada kegiatan di kantor-kantor pemerintahan itu dibangun. Laporan lengkapnya di Dinas Perindustrian dan Energi mereka punya detailnya. Kemudian soal sumur-sumur vertikal kita akan mulai di tahun 2019 ini. Itu di kampung-kampung yang memang tanahnya memungkinkan adanya drainase vertikal,” kata Anies di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Sabtu 4 Mei 2019.

Anies mengatakan akan ada banyak drainase vertikal yang dibuat. Dia mengatakan salah satu yang dipertimbangkan dalam pembuatan drainase vertikal yakni ketinggian air tanah. “Tanah yang memungkinkan itu artinya, dari sisi ketinggian air tanah memungkinkan untuk dibuat saluran-saluran vertikal. Jumlahnya akan banyak. Detail jumlahnya bisa cek di Dinas Perindustrian dan Energi,” tuturnya.

Anies bahkan berencana memberikan diskon pajak bumi bangunan (PBB) bagi warga yang ingin membuat drainase vertikal di

Namun, hal ini baru direalisasikan tahun depan. Dia juga berterima kasih kepada warga karena drainase vertikal membuat kandungan air di tanah jadi lebih banyak.
“Kalau itu baru mungkin tahun depan untuk mekanisme fiskalnya. Kenapa tahun depan? Tahun ini kita baru melakukan fiskal kadaster, dari fiskal kadaster itu kita punya ukuran lahan-lahan, kita punya besaran pajak, dari itu kita melakukan keputusan ukuran-ukuran besaran-besaran pajaknya dan lain-lain,” ucap dia.

“Saya ingin sampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang sekarang sudah mulai membangun sumur-sumur resapan, vertikal drainase. Karena harapannya itu akan membantu untuk membuat tanah kita memiliki kandungan air yang lebih banyak,” imbuh Anies. (*)