Lamer | Jakarta – Pelopor virus corona, China, sudah anti-klimaks. Jumlah pengidap terus menurun. Bahkan, beberapa rumah sakit sudah kosong dari pengidap corona.

Itu ternyata sesuai prediksi Pakar Biofisika dari Stanford University, Amerika Serikat, Michael Levitt (pemenang hadiah Nobel bidang kimia, 2013).

Dikutip dari LA Times, Michael Levitt pada Januari lalu sudah mengatakan, bahwa pandemi corona di China bakal segera berakhir. Terbukti, kini China sudah tidak risau Covid 19.

Levitt tidak asal ngomong. Dia ilmuwan peraih Nobel. Dia menganalisis kasus Covid 19 sejak Januari lalu. Yang dia jadikan contoh China, selaku pelopor Covid 19. Hasilnya, kini China memang sudah tidak dipusingkan corona.

Menurut Levitt, pandemi corona ini tidak panjang (atau lama). China sudah melewati puncak kepanikan masyarakat terhadap virus tersebut.

Kini kepanikan berpindah ke Amerika Serikat. Tapi, menurut Levitt, tidak lama lagi AS bakal melewati kondisi kepanikan masal itu.

Pendapat Levitt ini menyejukkan hati warga dunia. Seolah dia mengatakan bahwa badai corona pasti akan segera berlalu. Beda dengan banyak pakar yang memprediksi bahwa badai ini bakal berkepanjangan.

Michael Levitt mengatakan:

“Yang kita butuhkan saat ini adalah mengendalikan kepanikan. Dalam skala besar, kita akan baik-baik saja,” katanya, seperti dilansir dari LA Times.

Lalu, data apa yang dianalisis Levitt dari kasus China?

Pada 31 Januari, China mencatat 46 kasus kematian baru karena Covid-19 dan 42 kematian baru sehari sebelumnya.

Meski jumlah kematian meningkat setiap harinya, tetapi tren kenaikan itu perlahan mereda. Tidak drastis.

Dalam pandangan Levitt, fakta bahwa kasus baru yang sedang diidentifikasi, berjalan lebih lambat daripada jumlah kasus baru itu sendiri, adalah tanda awal bahwa lintasan wabah telah bergeser.

Levitt mengibaratkan wabah adalah mobil yang melaju di jalan raya terbuka.

Meskipun mobil itu masih memiliki kecepatan tertentu, tidak berarti mobil itu mengalami peningkatan kecepatan yang sama besar seperti sebelumnya.

“Ini menunjukkan bahwa tingkat peningkatan jumlah kematian akan melambat pada pekan-pekan mendatang,” tulis Levitt dalam sebuah laporan yang dikirim kepada teman-temannya, 1 Februari 2020 yang secara luas dibagikan di media sosial China.

Itulah mengapa ia memperkirakan jumlah kematian akan berkurang setiap hari.

Tiga minggu setelahnya, Levitt mengatakan kepada China Daily News, bahwa tingkat pertumbuhan virus telah memuncak. Atau sampai pada puncaknya.

Dia memperkirakan bahwa jumlah total kasus Covid-19 yang terkonfirmasi di China akan mencapai sekitar 80.000, dengan sekitar 3.250 kematian.

Perkiraan ini ternyata sangat akurat.

Pada 16 Maret 2020 total kasus Covid-19 di China tercatat sejumlah 80.298 kasus dan 3.245 kematian, dengan total penduduk negara mencapai 1,4 miliar orang dan sekitar 10 juta penduduk meninggal setiap tahunnya.

Jumlah pasien yang baru didiagnosis telah turun menjadi sekitar 25 setiap harinya, tanpa ada kasus penyebaran yang dilaporkan sejak Rabu (25/3/2020).

Titik balik

Kini, ilmuwan yang menerima Hadiah Nobel 2013 untuk pengembangan model kompleks sistem kimia itu, melihat adanya titik balik yang serupa di negara-negara lain.

Bahkan, titik balik juga diprediksi terjadi pada negara-negara yang tidak memberlakukan aturan isolasi ketat seperti China.

Untuk mendapatkan kesimpulan ini, Levitt menganalisis data dari 78 negara yang melaporkan lebih dari 50 kasus Covid-19 baru setiap harinya dan melihat adanya tanda-tanda pemulihan di banyak negara.

Dia tidak fokus pada jumlah total kasus di suatu negara, tetapi lebih pada jumlah kasus baru yang diidentifikasi setiap hari, terutama pada perubahan jumlah dari satu hari ke hari berikutnya.

“Angka-angkanya masih tinggi, tetapi jelas ada tanda-tanda pertumbuhan melambat,” katanya.

Misalnya, di Korea Selatan, kasus baru memang masih muncul dan membuat jumlah total kasus bertambah.

Namun, perhitungan kasus baru setiap harinya telah menurun dalam beberapa minggu terakhir dengan angka tetap di bawah 200.

Data itu menunjukkan bahwa wabah corona di sana mungkin sudah mereda.

Di Iran, jumlah kasus baru Covid-19 yang terkonfirmasi per harinya relatif datar pada pekan lalu. Artinya, tidak naik tidak turun.

Pada Senin pekan lalu, kenaikan kasus mencapai 1.053, tetapi pada hari Minggu hanya 1.028. Kenaikannya menurun.

Meskipun angka kasus baru tersebut terbilang masih cukup tinggi, kata Levitt, tetapi polanya menunjukkan bahwa wabah di sana seolah sudah melewati batas setengah jalan.

Sementara jumlah kasus baru di Italia diperkirakan masih akan terus meninggi.

Di negara itu, jumlah kasus baru yang terkonfirmasi terus meningkat pada sebagian besar hari dalam sepekan terakhir ini.

Di tempat-tempat yang telah berhasil pulih dari wabah awal, para pejabat masih harus mengantisipasi fakta bahwa virus corona dapat kembali. Dan, jumlah pengidap bakal naik lagi.

Seperti China yang sekarang sedang berjuang menghentikan gelombang infeksi baru yang datang dari tempat-tempat di mana virus itu menyebar tak terkendali.

Negara-negara lain, menurut dia, hampir pasti menghadapi masalah yang sama.

Levitt mengakui bahwa angka-angkanya berantakan, dan jumlah kasus resmi di banyak daerah terlalu rendah, karena sistem pengujiannya sangat buruk.

Namun, bahkan dengan data yang tidak lengkap, tren penurunan yang konsisten menunjukkan adanya beberapa faktor yang menentukan, bukan hanya soal kekacauan angka-angka jumlah.

Dengan kata lain, kita masih bisa membandingkan jumlah kasus pada satu hari dengan hari berikutnya.

Lintasan kematian mendukung penemuannya karena mengikuti tren dasar yang sama dengan kasus-kasus baru yang dikonfirmasi.

Begitu juga data dari wabah virus di lingkungan terbatas, seperti di kapal pesiar Diamond Princess.

Dari 3.711 orang di dalamnya, 712 terinfeksi dan delapan meninggal.

Eksperimen yang tidak disengaja dalam penyebaran virus corona ini akan membantu para peneliti memperkirakan jumlah kematian yang akan terjadi pada populasi keseluruhan.

Misalnya, data Diamond Princess memungkinkannya untuk memperkirakan bahwa terkena Covid-19 menggandakan risiko seseorang meninggal dalam dua bulan ke depan.

Kebanyakan orang memiliki risiko kematian yang sangat rendah dalam periode dua bulan, sehingga risiko kematian sangatlah rendah, bahkan ketika sudah digandakan.

Terkait temuan Levitt, seorang ahli biostatistik di University of Massachusetts Amherst, Nicholas Reich, mengatakan, banyaknya perspektif para ahli dapat lebih mengarahkan pengambilan keputusan yang rumit dari para pembuat keputusan pada waktu-waktu mendatang.

Tidak separah yang terjadi

Levitt mengatakan, ia mendukung langkah-langkah kuat untuk memerangi wabah tersebut.

Menurut dia, mandat pembatasan sosial sangat penting, terutama larangan pertemuan besar.

Karena virus ini sangat baru. Sehingga penduduk tidak memiliki kekebalan terhadapnya dan vaksin kemungkinan baru bisa digunakan beberapa bulan lagi.

Meski begitu, lanjutnya, mendapatkan vaksinasi flu juga penting untuk mengurangi kemungkinan rumah sakit dibanjiri pasien karena virus corona tidak terdeteksi.

“Mungkin ini faktor (kasus membeludak) di Italia, negara dengan gerakan anti-vaksin yang kuat,” katanya.

Dia menambahkan, pemberitaan juga berkontribusi besar terhadap kepanikan yang tidak perlu di masyarakat.

Padahal, kasus penyakit lainnya yang juga menyebabkan kematian, dengan angka tinggi, tidak hanya virus corona, tetapi hal itu tidak banyak diberitakan.

Levitt khawatir, langkah-langkah kesehatan masyarakat yang telah menyebabkan gangguan ekonomi yang besar ini justru dapat menyebabkan bencana kesehatan mereka sendiri, seperti kemiskinan dan keputusasaan karena kehilangan pekerjaan.

Dia menuturkan, virus dapat tumbuh secara eksponensial hanya ketika tidak terdeteksi dan tidak ada yang bertindak untuk mengendalikannya.

Hal itulah yang terjadi di Korea Selatan bulan lalu.

Jadi, perlu deteksi dini yang lebih baik, tidak hanya melalui pengujian, tetapi juga bisa dengan pengawasan suhu tubuh seperti diterapkan China, dan isolasi sosial.

Meskipun untuk sementara ini tingkat kematian akibat Covid-19 tampak secara signifikan lebih tinggi daripada flu, Levitt mengatakan, masyarakat tak perlu khawatir.

“Ini bukan akhir dunia. Situasi sebenarnya tidak separah yang seolah terjadi,” ungkapnya.

Sementara itu, seorang dokter dan peneliti penyakit menular di Lundquist Institute for Biomedical Innovation di Harbor-UCLA Medical Center, Loren Miller, mengatakan, terlalu dini untuk menarik kesimpulan apa pun.

Baik kesimpulan positif maupun negatif tentang pandemi yang masih berlangsung ini.

Menurut dia, saat ini masih banyak ketidakpastian yang terjadi.

“Di China mereka bisa menghentikannya dalam waktu singkat, di Amerika, mungkin kita bisa mungkin juga tidak. Kita tidak tahu itu,” katanya. (*)