Meningkatkan Flexural Strength Pada Pembetonan Untuk Pekerjaan Konstruksi

Papua l lampumerah.id – Gagasan inovatif dari insan mutu di PT Pertamina Patra Niaga tak terbatas, tak terkecuali dalam bidang konstruksi. Salah satunya ditunjukkan oleh Tim PC Prove Coco Fiber (CORO) dari Fungsi Reliability and Project Development Regional Papua Maluku yang telah membuktikan hal tersebut dengan mengembangkan metode Carbon Line Fiber pada konstruksi yang berkelanjutan.

Salah satu anggota Tim PC Prove Coco Fiber, Much Arif Amrulloh memaparkan bahwa salah satu komponen biaya terbesar pada konstruksi sipil, terutama pembetonan adalah pembesian. Pembesian pada pembetonan berfungsi untuk menaikkan flexural strength. Dikarenakan biaya pembesian (kg/m’3) beton tergolong mahal diperlukan upaya / inovasi untuk mengurangi biaya tersebut.

Berangkat dari permasalahan tersebut, Arif bersama enam rekan timnya yaitu Sandi Mulya, Hasbi Fahada, Digby Febri A.A, Ihsan Fiermana, Andi Muhammad Akbar dan Sara Marlis Youwe, merumuskan metode Carbon Line Fiber pada konstruksi. Yakni metode material subtitusi pembesian pada beton yang lebih murah dengan Flexural strength lebih tinggi, sehingga bisa Menurunkan Biaya Konstruksi Pembetonan.

Dalam penerapannya, Tim PC Prove Coco Fiber (CORO) ini menggagas dua pengembangan untuk memaksimalkan efektivitas metode Carbon Line Fiber pada konstruksi. Pertama adalah penambahan coco fiber, yaitu mencampurkan serat serabut kelapa kedalam material campuran pembetonan. Hal ini berguna untuk menambah daya rekat dari pembetonan.

Pengembangan kedua adalah menambahkan carbon line pada pembetonan, yaitu dipasang melintang di bagian bawah beton, berguna untuk meningkatkan flexural strength dan disempurnakan dengan FRP serta polyurethene

Pada prinsipnya, sifat utama pada beton adalah “kuat tekan” dan “kuat Tarik”. Kuat tekan didapatkan darimutu beton, sedangkan kuat Tarik didapatkan dari tulangan. Oleh sebab itu, metode penggunaan Carbon Line pada pembetonan dapat digunakan sebagai perkuatan untuk kuat tarik.

Selanjutnya, Arif menuturkan bahwa kedua pengembangan tersebut saling terintegrasi dan dapat dijalankan dalam satu proyek. Disusun dengan metode yang runtut, ia yakin inovasi timnya tersebut realistis dan mampu meminimalisir pemborosan dengan berkelanjutan.

“Semoga apa yang kami temukan ini dapat menjadi inspirasi serta mendukung perkembangan inovasi konstruksi ke depannya,” harapnya.

Di bawah bimbingan Fasilitator Muhammad Fathoni, inovasi Tim PC Prove Coco Fiber (CORO) ini telah sukses diuji coba di Laboratorium Teknik Sipil Universitas Indonesia dan Laboratorium Mixindo. Harapannya inovasi ini dapat dikembangkan dan digunakan pada metode konstruksi lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru