SURABAYA l Lampumerah.id – Puluhan warga RW 1 dan RW 2 Kelurahan Babatan, Kecamatan Wiyung, menggelar aksi protes di kawasan Jalan depan Waduk Unesa, Kamis (1/1/2026). Mereka mempersoalkan kebijakan Camat Wiyung, Budiono, S.Pd., MM, yang melarang aktivitas berjualan bagi sekitar 93 pedagang kaki lima (PKL) di lokasi tersebut.
Aksi yang dipimpin pengurus RW dan RT itu menyasar tenda posko Satpol PP Kecamatan Wiyung dan Pemerintah Kota Surabaya yang berada di sepanjang jalan depan Waduk Unesa. Warga menilai kebijakan pelarangan tersebut dilakukan secara sepihak dan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat, khususnya warga RW 1 dan RW 2 yang mayoritas berprofesi sebagai PKL.
Situasi sempat memanas. Untuk meredam ketegangan, Camat Wiyung Budiono turun langsung menemui warga dan mengajak dialog di lokasi.
“Mengingat kondisi sudah mulai panas dan tidak kondusif, saya berinisiatif mengajak dialog langsung di tempat,” ujar Budiono di hadapan warga.
Dialog yang berlangsung cukup alot itu akhirnya menghasilkan kesepakatan. Pihak kecamatan memperbolehkan para PKL kembali berjualan dengan tetap mengacu pada kesepakatan yang sebelumnya telah dibuat antara warga dan pihak kecamatan.
“Sudah disepakati, PKL boleh kembali berdagang. Sambil berjalan, kita akan mencari solusi terbaik atas permasalahan yang disampaikan warga RW 1 dan RW 2 Kelurahan Babatan,” jelas Budiono.
Perwakilan warga, Siswanto, menyampaikan bahwa pada dasarnya tuntutan warga mengacu pada kesepakatan lama yang telah disepakati bersama Ketua LPMK almarhum Rukun, serta seluruh pengurus RW dan RT setempat.
Dalam kesepakatan tersebut, warga mengajukan sejumlah permintaan, di antaranya pembangunan sarana dan prasarana olahraga, penyediaan kantor RW, pengembalian akses jalan dan gapura Gang 6, serta perbaikan berbagai fasilitas umum lainnya.
“Sebagian permintaan warga memang sudah dipenuhi, namun masih ada tuntutan lain yang hingga kini belum direalisasikan oleh Pemkot Surabaya,” ungkap Siswanto.
Dengan diizinkannya kembali aktivitas PKL, warga berharap roda perekonomian keluarga dapat kembali bergerak. Terlebih, kondisi ekonomi pasca pandemi Covid-19 dinilai belum sepenuhnya pulih.
“Mayoritas PKL ini warga RW 1 dan RW 2. Dengan bisa berjualan lagi, Alhamdulillah ekonomi keluarga kembali berjalan. Intinya, warga Babatan taat hukum, tetapi juga menginginkan keadilan,” pungkasnya.(Lam)


