GRESIK | lampumeran.id – PT Petrokimia Gresik (Persero) memperkuat dukungannya terhadap pengembangan bawang merah unggulan Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, melalui program “Pestani Bawang Merah Nyawiji”.
Program ini melibatkan 120 petani dari enam kecamatan, yaitu Kecamatan
Wilangan, Bagor, Rejoso, Nganjuk, Sukomoro, dan Kecamatan Gondang.
Melalui demonstration plot (demplot) yang menjadi bagian dari program, produktivitas bawang merah mencapai 20 ton per hektare, meningkat hingga 12 persen dibandingkan panen sebelumnya sebesar 18 ton per hektare.
Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik, Adityo Wibowo mengatakan, bawang merah merupakan salah satu komoditas hortikultura strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Karena itu, peningkatan produktivitas dan kualitas komoditas ini menjadi penting, tidak hanya untuk meningkatkan kesejahteraan petani, tetapi juga dalam menjaga ketersediaan pangan.
“Kami tidak ingin berhenti pada penyediaan pupuk, tetapi juga mendorong edukasi pemupukan berimbang, layanan uji tanah, pendampingan budidaya, pemanfaatan teknologi pertanian, serta penguatan ekosistem pertanian dari hulu hingga hilir. Semangat tersebut salah satunya kami wujudkan melalui Program Pestani,” ujar Adityo yang akrab disapa Adit.
Pestani tidak hanya dikembangkan pada komoditas bawang merah, tetapi telah diterapkan pada sejumlah komoditas unggulan di berbagai wilayah Jawa Timur. Seperti Pestani Rawit yang mencakup Malang, Probolinggo, Mojokerto, Kediri, dan Blitar.
Pestani Melon Pantura di Tuban, Ngawi, Bojonegoro, Gresik, dan Lamongan; serta Pestani Semangka Tapal Kuda di Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.
Sebaran tersebut menjadi bagian dari pendekatan Petrokimia Gresik, dalam menjalankan pemberdayaan petani yang disesuaikan dengan potensi komoditas unggulan di masing-masing wilayah.
“Petrokimia Gresik berkomitmen untuk terus tumbuh dan berkembang bersama petani. Kami percaya, ketika petani semakin produktif dan sejahtera, maka pertanian akan semakin kuat. Dan ketika pertanian semakin kuat, ketahanan pangan Jawa Timur dan Indonesia akan semakin kokoh,” pungkas Adit.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


