GRESIK | lampumerah.id – Dinamika geopolitik global yang mempengaruhi pasokan dan harga sulfur dunia menuntut perusahaan untuk memperkuat strategi pengamanan pasokan bahan baku, melalui penguatan supply chain dan optimalisasi kapasitas produksi domestik.

Menghadapi itu, Petrokimia Gresik melakukan sejumlah langkah strategis, antara lain diversifikasi sumber pasokan sulfur, penguatan kontrak jangka panjang untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga, serta penguatan infrastruktur penyimpanan dan distribusi bahan baku.

“Langkah ini untuk menjaga ketahanan industri pupuk dan kimia nasional, mengingat sulfur dan asam sulfat merupakan bahan baku utama dalam produksi pupuk fosfat dan NPK, serta digunakan dalam berbagai industri seperti pengolahan logam, pengolahan air, dan industri kimia lainnya,” ujar Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob, saat menjadi pembicara dalam konferensi internasional Argus Fertilizer Asia Conference 2026 di Bali.

Daconi menambahkan, saat ini Indonesia menjadi pusat permintaan global untuk sulfur yang didorong oleh kebijakan hilirisasi mineral, ekspansi rantai pasok baterai nikel seiring pertumbuhan produksi baterai kendaraan listrik (EV)—meningkatkan kebutuhan sulfur, terutama untuk proses high-pressure acid leaching (HPAL) yang menggunakan asam sulfat, serta penerapan regulasi lingkungan yang meningkatkan kebutuhan pengolahan berbasis sulfur.

Daconi menegaskan di tengah dinamika global saat ini, fokus utama Petrokimia Gresik adalah menjaga stabilitas pasokan dan produksi agar kebutuhan pupuk nasional tetap dapat terpenuhi.

“Kami terus melakukan upaya optimal dalam menjaga keberlangsungan produksi melalui penguatan supply chain dan kapasitas domestik, sehingga kebutuhan pupuk nasional dapat tetap terpenuhi,” ujar Daconi.

Tinggalkan Balasan