SIDOARJO l Lampu merah.id – Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur, H. Lutfil Hakim, mengingatkan industri media agar tidak terlena dengan cara lama. Di tengah laju perubahan teknologi dan pergeseran perilaku audiens, media yang enggan bertransformasi dinilai akan kian tersisih dari peta persaingan informasi.
“Transformasi hari ini bukan sekadar opsi, tapi syarat bertahan. Media yang tidak menyesuaikan diri akan kehilangan relevansi sekaligus audiensnya,” tegas Lutfil, Selasa (30/12).
Media Konvensional di Titik Kritis
Lutfil menilai media konvensional tengah berada pada fase krusial. Perubahan cara masyarakat mengonsumsi informasi, dominasi platform digital, serta peralihan belanja iklan telah mengguncang fondasi bisnis media lama.
Perusahaan pers yang lamban beradaptasi—baik dalam pemanfaatan teknologi, pengemasan konten, maupun pembaruan model bisnis berisiko ditinggalkan publik. Namun demikian, ia menegaskan bahwa mutu jurnalistik dan kredibilitas tetap menjadi keunggulan utama media arus utama yang tak bisa digantikan algoritma ataupun kecerdasan buatan (AI).
Kolaborasi dan Inovasi Pendapatan
Menghadapi dominasi platform digital global, Lutfil mendorong media untuk membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya. Sinergi antar-media, kerja sama dengan kreator konten, hingga kemitraan lintas sektor dinilai penting untuk memperluas jangkauan dan daya saing.
Di sisi lain, pola pendapatan juga harus diperbarui. Ketergantungan pada iklan konvensional dianggap tidak lagi cukup. Menurutnya, masa depan media terletak pada kombinasi iklan digital berbasis data, creator economy, commerce media, layanan berlangganan premium, serta pengembangan produk konten bernilai tambah.
Audiens Dinamis, Media Wajib Adaptif
Perilaku audiens yang kian dinamis menuntut media hadir di berbagai platform. Masyarakat kini mengakses informasi secara lintas kanal mulai dari TikTok, YouTube, Instagram, podcast, hingga komunitas digital yang lebih spesifik.
“Kunci keberhasilan media adalah kemampuan mendistribusikan konten secara cerdas, menyesuaikan karakter dan kekuatan tiap platform,” ujarnya.
Media sebagai Motor Ekonomi Kreatif
Lebih jauh, Lutfil mendorong media mengambil peran strategis dalam ekosistem ekonomi kreatif. Media tidak lagi hanya memproduksi berita, tetapi juga berpeluang menjadi penggerak kegiatan berbasis massa seperti event olahraga, seminar, pameran, konferensi, hingga festival.
Langkah tersebut diyakini mampu membuka sumber pendapatan baru sekaligus memperkuat posisi media sebagai simpul informasi dan ekonomi.
Menjaga Kepercayaan Publik
Di tengah gempuran disrupsi digital, Lutfil menekankan satu prinsip yang tak boleh ditinggalkan: kepercayaan publik.
“Teknologi hanyalah alat dan monetisasi adalah kebutuhan. Tetapi fondasi utama media tetap kepercayaan publik. Tanpa itu, sehebat apa pun model bisnis, tidak akan bertahan,” pungkasnya.


