GRESIK | lampumerah.id – Rebo Wekasan Desa Suci Kecamatan Manyar ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada 2025. Berdasarkan data Disparekrafbudpora Gresik, tradisi tersebut masuk dalam domain Adat Istiadat Masyarakat, Ritus, dan Perayaan-perayaan dengan lokasi persebaran di Desa Suci.

Selain Rebo Wekasan, di Kabupaten Gresik juga empat karya budaya lainnya yang ditetapkan sebagai WBTb pada 2025, yakni Pasar Bandeng, Malam Selawe, Pencak Macan, dan Kupat Keteg.

Tradisi Rebo Wekasan tahun 2026, diadakan selama lima hari, Sabtu (8/8) hingga Rabu (12/8). Acara diawali dengan ziarah kubur ke makam sesepuh Desa Suci.

“Acara dilanjutkan Khotmil Qur’an di Masjid Mambaut Tho’at diteruskan Kirab Tumpeng Agung dari Pendopo Balai Desa menuju Masjid Mambaut Tho’at,” ujar Sekretaris Desa (Sekdes) Suci, Mohammad Miftach.

Rangkaian kegiatan Rebo Wekasan adalah Pasar dan UMKM di lapangan Desa Suci, dan sepanjang Jalan KH Syafi’i Desa Suci dan pembacaan Ratib di Masjid Mambaut Tho’at.

“Tradisi Rebu Wekasan yang dilakukan masyarakat Desa Suci setiap Rabu terakhir bulan Safar dan diwariskan secara turun-temurun. Tradisi ini berkaitan dengan sejarah perkembangan Islam dan asal-usul Desa Suci,” tuturnya.

Menurut Miftach, sejarah Rebo Wekasan Desa Suci merujuk pada Rabu terakhir di bulan Safar. Di Desa Suci, tradisi ini punya cerita yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan Islam, dan kisah ditemukannya sumber air yang kemudian menjadi bagian penting dari kehidupan warga.

Menurut sejarah yang dimuat laman resmi Pemerintah Desa Suci, kisahnya bermula pada masa Kanjeng Sunan Giri sekitar tahun 1483. Saat itu, Sunan Giri emerintahkan muridnya, Syeikh Jamaludin Malik, untuk menyebarkan ajaran Islam ke wilayah sebelah barat Giri.

Syeikh Jamaludin Malik kemudian mendirikan masjid yang digunakan sebagai tempat pendidikan dan pesantren. Para santri yang datang semakin banyak, sehingga kebutuhan air pun ikut bertambah. Sementara sumur yang ada saat itu belum mencukupi.

Ia kemudian meminta petunjuk kepada Sunan Giri. Sang waliyullah ini mengarahkan Syekh Jamaludin Malik untuk berjalan ke utara, hingga menemukan rerimbunan pepohonan. Di tempat itulah ditemukan sumber air yang jernih dan besar.

Kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Kampung Suci, yang menjadi cikal bakal Desa Suci sekarang. Penemuan sumber air itu juga berkaitan dengan pelaksanaan Rebo Wekasan di Desa Suci.

Tinggalkan Balasan