GRESIK | lampumerah.id – Perjalanan panjang UMKM Batik Bangsawan, berawal dari sebuah gang sempit di Desa Legowo Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik.
Pemilik Batik Bangsawan, Midhiatul Fitriyah, menceritakan usaha yang dirintis bersama almarhum suaminya pada tahun 2016 dibangun dari berbagai keterbatasan. Ia mengaku memulai Batik Bangsawan dari nol.
Saat itu, ia masih belajar mengenai proses produksi sekaligus bagaimana memasarkan produk agar dapat diterima lebih banyak konsumen.
Dalam perjalanannya, Batik Bangsawan mendapatkan pendampingan mulai dari akses permodalan, peningkatan kapasitas melalui berbagai pelatihan, dukungan standardisasi produk, hingga fasilitasi promosi dan pemasaran.
“Saya ini didampingi dari nol. Dulu saya hanya berdagang. Alhamdulillah sekarang bisa seperti ini,” ujar Fitri, sapaan akrabnya.
Setelah satu dekade menjalankan usahanya, Fitri mengaku Batik Bangsawan kini tidak hanya berkembang dari sisi pasar dan penjualan. Usaha yang dahulu dibangun dengan berbagai keterbatasan tersebut juga telah membuka kesempatan kerja bagi sembilan orang di lingkungan sekitarnya.
“Dulu saya mulai dari kecil sekali. Sekarang Alhamdulillah usaha ini bisa berkembang dan memberikan pekerjaan untuk orang lain. Saya berharap Batik Bangsawan bisa terus berkembang, semakin dikenal, dan membawa nama Gresik lebih mendunia,’ pungkas Fitri.
Diakui Fitri, pendukung utama kemajuan usahanya adalah keterlibatan langsung PT Petrokimia Gresik (Persero). Berkat pendampingan dari perusahaan ini, Batik Bangsawan kini mampu mencatat omzet sekitar Rp 70 juta per bulan, menampung sembilan pekerja, serta menjangkau pasar nasional hingga internasional.
Batik Bangsawan yang sebelumnya dipasarkan di Gresik dan sekitarnya, kini telah menjangkau pasar nasional hingga Thailand dan New York, serta pemanfaatan platform digital. Batik Bangsawan juga berhasil meraih penghargaan Platinum pada Bina Mitra UMKM Award 2025.
Sekretaris Perusahaan Petrokimia Gresik, Nuril Huda, menyampaikan pendampingan tersebut diarahkan untuk membangun fondasi usaha yang semakin kuat, baik dari sisi kualitas produk, kapasitas pengelolaan usaha maupun daya saing.
“Batik Bangsawan menjadi salah satu gambaran, bagaimana pendampingan yang berkelanjutan dapat membuka lebih banyak peluang bagi UMKM,” ujar Nuril.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


