Bekasi | Lampumerah id — Kompetisi BLISPI Youth Cup V Piala Ketua DPD RI Tahun 2026 menjadi salah satu upaya mendorong pembinaan sepak bola usia muda sekaligus membuka peluang bagi talenta-talenta daerah untuk berkembang dan berprestasi di tingkat nasional maupun internasional.
‎
‎Kompetisi yang diselenggarakan oleh Badan Liga Sepakbola Pelajar Indonesia (BLISPI) tersebut dijadwalkan berlangsung pada 25–28 Oktober 2026, dengan mempertandingkan empat kategori usia, yakni U10, U12, U14, dan U16.
‎
‎Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI), Sultan Bachtiar Najamudin, dalam sambutannya saat kick-off menegaskan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam dunia sepak bola. Namun, potensi tersebut perlu diimbangi dengan kesempatan, fasilitas, dan sistem pembinaan yang merata, khususnya bagi anak-anak di daerah.
‎
‎Menurut Sultan, banyak anak Indonesia memiliki bakat dan minat besar terhadap sepak bola. Sayangnya, tidak semua memperoleh kesempatan yang sama untuk mengembangkan kemampuan mereka.
‎
‎“Saya percaya dan yakin bahwa di luar sana, di daerah, begitu banyak talenta, begitu banyak bakat dan minat anak-anak yang memang hobi bola. Hanya saja, tidak semua memiliki peluang dan kesempatan yang sama,” ujar Sultan.
‎
‎Ia menjelaskan, penyelenggaraan BLISPI Youth Cup V merupakan salah satu langkah untuk memperluas akses kompetisi bagi pemain usia muda. Dukungan terhadap kegiatan ini juga sejalan dengan komitmen DPD RI dalam memperhatikan potensi daerah, termasuk pengembangan olahraga dan sumber daya manusia.
‎
‎Sultan menilai pembinaan sepak bola tidak boleh hanya berfokus pada pemain yang sudah matang atau siap berkompetisi di tingkat profesional. Menurutnya, proses pencarian bakat harus dimulai sejak usia dini melalui kompetisi yang berkelanjutan.
‎
‎“Dari awal kita tidak boleh hanya berkompetisi ketika pemainnya sudah jadi. Kita ingin mendampingi mereka sejak awal,” tegasnya.

‎Sultan mendorong agar pembinaan sepak bola pelajar dikembangkan melalui sistem kompetisi berjenjang, mulai dari tingkat kampung dan antardesa, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga nasional.
‎
‎Dengan sistem tersebut, pemain berbakat dari berbagai daerah diharapkan memiliki jalur yang jelas untuk menunjukkan kemampuan dan memperoleh kesempatan mengikuti pembinaan lebih lanjut.
‎
‎“Kita punya struktur sampai ke daerah. Kompetisi bisa dimulai dari kampung, lomba antardesa, kemudian juara kecamatan bertanding di tingkat kabupaten, dilanjutkan ke tingkat provinsi, dan akhirnya ke tingkat nasional,” ungkapnya.
‎
‎Ia menilai, Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta jiwa seharusnya memiliki peluang besar untuk menemukan pemain-pemain berkualitas yang mampu memperkuat tim nasional.
‎
‎Karena itu, kompetisi sepak bola pelajar perlu menjadi bagian dari sistem pembinaan jangka panjang, bukan sekadar agenda pertandingan untuk memperebutkan gelar juara.
‎
‎Sultan juga berharap penyelenggaraan BLISPI Youth Cup dapat dilakukan secara konsisten bersama BLISPI dan berbagai pihak terkait. Melalui kompetisi yang terstruktur, proses pemantauan bakat dapat dilakukan lebih awal sehingga pemain potensial tidak kehilangan kesempatan hanya karena keterbatasan akses di daerah.
‎
‎Dalam kesempatan tersebut, Sultan turut menyampaikan apresiasi atas kehadiran Shin Tae-yong, sosok yang dikenal luas dalam dunia sepak bola Indonesia.
‎
‎Sultan menyebut dirinya memiliki kegemaran terhadap sepak bola dan olahraga. Ia mengaku kerap berdiskusi mengenai perkembangan sepak bola bersama sejumlah pihak, termasuk Shin Tae-yong, untuk memperoleh pandangan dan pengalaman yang dapat mendukung kemajuan sepak bola nasional.
‎
‎Menurut Sultan, kehadiran tokoh yang memiliki pengalaman di tingkat internasional diharapkan mampu memberikan motivasi kepada para pemain muda sekaligus memperluas wawasan mengenai pentingnya pembinaan sejak dini.
‎
‎Ia juga menyampaikan optimisme terhadap masa depan sepak bola Indonesia. Meski demikian, Sultan mengakui masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah yang perlu dibenahi, mulai dari sistem pembinaan, pendampingan pemain, hingga penyediaan fasilitas yang memadai.
‎
<span;>‎Terkait kemungkinan keterlibatan jaringan sepak bola internasional dalam pengembangan pemain muda, Sultan menyebut terdapat respons positif. Namun, bentuk dukungan dan mekanisme pelaksanaannya masih perlu ditindaklanjuti lebih lanjut.
‎
‎BLISPI Youth Cup V mempertandingkan kategori U10, U12, U14, dan U16 sebagai ruang bagi para pemain muda untuk mengasah kemampuan teknik, meningkatkan mental bertanding, serta membangun karakter dan sportivitas.
‎
‎Selain mengejar prestasi, kompetisi ini diharapkan dapat menanamkan nilai kedisiplinan, kerja sama tim, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah kepada para peserta.
‎
‎Pembinaan sejak usia dini dinilai menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem sepak bola yang kuat. Oleh karena itu, sinergi antara penyelenggara, pemerintah, PSSI, pelatih, sekolah, serta berbagai pemangku kepentingan diperlukan agar talenta muda mendapatkan pendampingan yang berkesinambungan.
‎
‎Sultan menegaskan bahwa pembinaan tidak boleh berhenti setelah kompetisi selesai. Sebaliknya, ajang ini harus menjadi titik awal untuk mengidentifikasi pemain potensial, memberikan pendampingan, serta memfasilitasi perkembangan mereka menuju jenjang yang lebih tinggi.
‎
‎Ia berharap ke depan semakin banyak pemain nasional yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia, sehingga kesempatan untuk berkembang tidak hanya dimiliki anak-anak yang berada di pusat-pusat pembinaan sepak bola.
‎
‎Melalui BLISPI Youth Cup V Piala Ketua DPD RI Tahun 2026, diharapkan lahir generasi pesepak bola muda yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional sekaligus mengharumkan nama daerah masing-masing.
‎
‎BLISPI Youth Cup V bukan sekadar ajang perebutan gelar juara, melainkan langkah untuk membuka kesempatan yang lebih luas, memperkuat pembinaan sepak bola usia dini, dan menemukan permata-permata sepak bola dari berbagai penjuru Indonesia.

Tinggalkan Balasan