GRESIK | lampumerah.id – Puluhan warga Desa Pulopancikan, Kecamatan Gresik kini bisa tidur nyenyak. Setelah bertahun-tahun hidup dengan ancaman atap bocor, banjir, hingga rumah sempit yang berdempetan, kini semua itu tinggal kenangan.

Pasalnya, Pemerintah Kabupaten Gresik bersama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF) telah menyerahkan 35 unit Rumah Layak Huni (RLH) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), Kamis (21/5).

Kegiatan ini dihadiri Sekretaris Daerah Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT SMF Bonai Subiakto, Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Jawa IV, Enfy Diana Dewi, serta Kepala Bappeda Kabupaten Gresik Edy Hadi Siswoyo.

Menurut Sekda, program rumah layak huni tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor korporasi dalam mendukung program nasional penyediaan tiga juta rumah yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

Ia menjelaskan, Desa Pulopancikan memang menjadi salah satu kawasan prioritas revitalisasi permukiman sejak 2017. Berbagai pembenahan dilakukan secara bertahap, mulai dari pembangunan drainase, jalan lingkungan, sanitasi, akses air bersih, pengelolaan limbah, hingga penataan bangunan dan persampahan.

“Pulopancikan ini kawasan strategis sekaligus kawasan heritage. Karena itu, penataannya tidak hanya memperbaiki rumah warga, tetapi juga menjaga wajah kawasan bersejarah Kabupaten Gresik agar lebih tertata dan layak,” jelasnya.

Meski demikian, Washil mengakui tantangan penanganan rumah tidak layak huni di Kabupaten Gresik masih cukup besar. Saat ini masih terdapat hampir 5.000 unit RTLH yang masuk dalam basis data kemiskinan ekstrem desil 1 dan desil 2.

Pada tahun 2026, Dinas Cipta Karya, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DCKPKP) telah mendata sekitar 647 unit rumah prioritas. Sebanyak 246 unit direncanakan ditangani melalui PAPBD 2026, sementara 401 unit lainnya akan dilanjutkan pada APBD 2027.

“Kami berharap kolaborasi bersama PT SMF dan Balai Penyediaan Perumahan dapat terus berlanjut agar semakin banyak masyarakat yang bisa merasakan manfaat rumah layak huni,” imbuhnya.

Sementara Kepala Bappeda Kabupaten Gresik. Edy Hadi Siswoyo menjelaskan, pembangunan 35 unit RLH di Desa Pulopancikan menelan anggaran sekitar Rp1,25 miliar yang seluruhnya bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT SMF Tahun Anggaran 2025.

Dengan rata-rata bantuan sebesar Rp 35,9 juta per rumah, proses pembangunan dilakukan selama 120 hari kalender dengan konsep swakelola berbasis partisipasi masyarakat.

“Program ini melibatkan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Jadi warga ikut terlibat dalam proses pembangunan, sehingga tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan tempat tinggalnya,” terang Edy.

Salah satu warga penerima manfaat, Titik (60), mengaku kini tidak lagi khawatir rumahnya kebanjiran saat hujan turun.

“Dulu rumah saya sering kebanjiran, sekarang sudah ditinggikan jadi tidak banjir lagi. Alhamdulillah sekarang juga sudah punya tembok sendiri, tidak menempel lagi dengan rumah sebelah. Saya sangat berterima kasih,” tuturnya haru.

Selain meningkatkan kualitas hidup masyarakat, revitalisasi kawasan Pulopancikan juga dinilai strategis karena berada di kawasan heritage yang berdekatan dengan Bandar Grisse, Kampung Arab, dan Kampung Pecinan.

Tinggalkan Balasan