GRESIK |lampumerah.id – Memasuki Semester 2 tahun 2026, ekonomi global masih melambat, kompetisi tetap brutal, tapi beberapa bisnis justru naik kelas dan tumbuh agresif.

Pertanyaannya adalah, apa yang mereka lihat, dan apa yang tidak dilihat pemain lain?

Mari kita bedah secara strategis bagaimana entitas bisnis bisa bertahan di situasi yang serba tidak pasti ini, supaya kita sebagai founder / business leader tidak cuma ikut arus tapi mengambil posisi yang tepat.

Bila dilihat sekilas semester 1 2026, peluang ada, tapi tidak untuk yang biasa-biasa saja
– Proyeksi pertumbuhan indonesia oleh IMF bukan lagi sekitar 5,0 persen seperti prediksi sebelumnya. Proyeksi IMF untuk Indonesia justru lebih optimistis, yaitu sekitar 5,1 persen pada 2026. IMF tetap menilai Indonesia sebagai salah satu negara dengan ketahanan ekonomi terbaik di tengah ketidakpastian global.

– Pandangan terhadap ekonomi global juga berubah. Awalnya banyak ekonom memperkirakan 3,1 persen, tetapi pembaruan IMF Januari 2026 menaikkan proyeksi global menjadi sekitar 3,3 persen karena investasi AI (Artificial Intelligence) atau dalam bahasa Indonesia disebut kecerdasan buatan, penyesuaian rantai pasok, dan meredanya sebagian ketegangan perdagangan. Namun IMF tetap mengingatkan bahwa risiko geopolitik dan kebijakan perdagangan masih tinggi.

Yang menarik adalah, 2026 ternyata bukan tahun resesi, tetapi tahun ketidakpastian.

Artinya bukan ekonomi jelek, melainkan permintaan masih tumbuh tetapi tidak merata, konsumen semakin selektif, investor semakin berhati-hati, perusahaan semakin menuntut efisiensi.

Menurut saya saat ini, ekonomi bukan hanya melambat, tetap akan ada pertumbuhan tetapi pertumbuhan murah sudah selesai.

Dulu perusahaan bisa tumbuh hanya dengan membuka cabang, menambah iklan, memberi diskon. Sekarang tidak lagi.

Saat ini perusahaan harus tumbuh dengan produktivitas, AI, data, customer experience dan efisiensi modal.

Ini juga sejalan dengan banyak publikasi terbaru dari McKinsey dan IMF yang menunjukkan, bahwa investasi AI kini menjadi prioritas strategis, sementara risiko utama bergeser ke geopolitik dan produktivitas.

Ada beberapa Insight yang saya dapatkan, yang hampir semua lembaga besar sepakati baik McKinsey, Bain & Company, Harvard Business Review, Forbes, sampai IMF, di antaranya adalah :

1. Winning Companies.

Bukan lagi yang paling besar, melainkan yang paling cepat belajar, paling cepat bereksperimen serta paling cepat beradaptasi dan berubah.

McKinsey berkali-kali menyebut bahwa, perusahaan yang mampu mengalokasikan sumber daya lebih cepat daripada kompetitor menghasilkan pertumbuhan jauh lebih tinggi dibanding perusahaan yang lambat mengambil keputusan.

2. Customer semakin “value conscious”.

Bukan berarti pelanggan hanya mencari murah. Mereka bertanya “Apakah produk ini benar-benar layak saya beli?”
Makanya yang menang justru yang
kualitasnya naik, pelayanannya naik, pengalaman naik dan bukan sekadar memberikan diskon.

3. Middle Market adalah medan perang terbesar.

Perusahaan premium tetap punya pelanggan, perusahaan murah tetap ada pasarnya. Menurut saya yang paling tertekan,.justru perusahaan biasa biasa saja. Mereka menjual barang/jasa tidak murah, tidak premium dan juga tidak punya diferensiasi.

Inilah yang disebut banyak pakar sebagai fenomena middle squeeze. Dan menurut saya inilah strategi bertahan yang paling penting

Saya membaginya menjadi 5 pilar.

1. Defend Cash.

Fokus utama: cash conversion cycle, inventory turnover, receivable dan operating cost.

Targetnya bukan sekadar laba, tetapi juga soal likuiditas. Bagaimana perusahaan Anda mampu memiliki uang cash untuk kebutuhan operasional harian perusahaan. Ini penting karena likuiditas mampu menjaga cash flow perusahaan agar bisa bertahan lebih lama.

2. Build Productivity.

Pertanyaan CEO seharusnya berubah,
bukan bagaimana menambah orang? Tetapi bagaimana pekerjaan yang sama selesai dengan AI tanpa perlu menambah orang, sehingga produktivitas menjadi keunggulan kompetitif.

3. Own Customer.

Banyak bisnis masih bergantung pada marketplace. Padahal aset sebenarnya adalah: database pelanggan, membership, loyalty program, CRM (Customer Relationship Management)

Perusahaan yang memiliki data pelanggan, akan lebih tahan terhadap perubahan algoritma platform.

4. Differentiate/Diferensiasi.

Tahun 2026 bukan zamannya menjadi “cukup bagus.” Harus jelas: tercepat, termurah, terbaik, p paling nyaman, paling premium. Kalau tidak punya positioning yang jelas, maka margin akan terus turun.

5. Build Optionality

Ini sering muncul dalam strategi perusahaan kelas dunia. Jangan hanya punya satu sumber pendapatan.
Misalnya perusahaan bisa create something new untuk bisa menghasilkan revenue di antaranya : offline, online, membership, B2B, corporate sales, digital service.

Semakin banyak opsi, semakin tahan terhadap guncangan. Kalau dikaitkan dengan bisnis retail dan mall, Ini justru sangat relevan.

Mall bukan lagi hanya tempat belanja.
Tetapi menjadi, social destination, entertainment, community hub, dan experiential retail.

Tenant yang kemungkinan tumbuh adalah, yang menawarkan pengalaman yang sulit digantikan oleh e-commerce. Seperti F&B, hiburan, kesehatan, kebugaran, edukasi dan layanan berbasis interaksi.

Sebaliknya, tenant yang hanya menjual produk tanpa nilai tambah akan semakin tertekan.

2026 bukan tentang bertahan dari perlambatan ekonomi. Ini adalah tahun ketika perusahaan dipaksa memilih: menjadi lebih produktif, lebih cerdas memanfaatkan AI, dan lebih dekat dengan pelanggan atau perlahan kehilangan daya saing.

Penulis:
Andiyanto Vino
General Manager Icon Mall Gresik

Tinggalkan Balasan