SURABAYA l lampumerah.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta kepengurusan baru Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Jawa Timur tidak berhenti pada penyaluran bantuan kepada masyarakat kurang mampu. Zakat didorong menjadi instrumen pemberdayaan yang mampu mengantarkan mustahik keluar dari kerentanan menuju kemandirian.
Pesan tersebut disampaikan Khofifah saat melantik lima pimpinan BAZNAS Provinsi Jawa Timur periode 2026-2031 di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Minggu (9/8/2026) malam.
Khofifah menilai potensi zakat yang besar di Jawa Timur harus dikelola secara amanah, profesional, transparan, sekaligus diarahkan pada program yang memberikan dampak jangka panjang bagi penerima manfaat.
Menurutnya, BAZNAS perlu lebih aktif memetakan kelompok masyarakat yang membutuhkan intervensi secara spesifik. Salah satunya komunitas pengemudi ojek online perempuan yang sebagian di antaranya merupakan orang tua tunggal.
“Penyaluran zakat tidak cukup hanya dalam bentuk bantuan material. Pendampingan kesehatan mental dan spiritual serta pemberdayaan ekonomi perlu berjalan terintegrasi agar bantuan memberikan dampak jangka panjang,” ujar Khofifah.
Ia mengatakan pendekatan tersebut penting agar zakat tidak hanya menyelesaikan persoalan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi jalan bagi mustahik untuk meningkatkan kualitas hidup.
Intervensi yang dilakukan, lanjut Khofifah, idealnya mencakup berbagai aspek, mulai dari kebutuhan fisik, kesehatan mental dan spiritual hingga penguatan ekonomi.
“Ketika aspek fisik, kesehatan mental, spiritual, dan ekonomi diintervensi secara beriringan, insyaallah mustahik tidak hanya terbantu melewati persoalan hari ini, tetapi juga memiliki jalan untuk bangkit dan menjadi lebih mandiri,” katanya.
Khofifah berharap BAZNAS Jatim mampu mengembangkan model pemberdayaan yang membuat penerima zakat tidak terus berada dalam posisi sebagai penerima bantuan. Sebaliknya, mereka diharapkan memiliki kemampuan ekonomi yang lebih kuat dan pada akhirnya dapat keluar dari kondisi rentan.
Lima Pimpinan BAZNAS Jatim
Dalam pelantikan tersebut, lima pimpinan BAZNAS Jatim periode 2026-2031 resmi dikukuhkan.
Mereka adalah H. Mohammad Ghofirin, M.Pd. sebagai Ketua; H. Imam Hambali, M.S.E.I. sebagai Wakil Ketua I Bidang Pengumpulan; H. A. Afif Amrullah, S.H.I., S.H., M.Pd. sebagai Wakil Ketua II Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan.
Kemudian Hj. Amirotul Muminah, M.Pd.I. sebagai Wakil Ketua III Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Pelaporan; serta Assoc. Prof. Dr. H. Moch. Syafi’i Hidayatullah, Lc., M.Hum., CDAI sebagai Wakil Ketua IV Bidang SDM, Administrasi, dan Umum.
Sementara itu, Pimpinan BAZNAS RI Bidang Organisasi, Kelembagaan, dan Pembinaan Daerah sekaligus Pembina Wilayah Jawa Timur, Hj. Saidah Sakwan, menegaskan pentingnya penguatan tata kelola dalam kepengurusan baru BAZNAS Jatim.
Menurut Saidah, pimpinan BAZNAS memiliki tanggung jawab besar memastikan seluruh proses pengelolaan zakat dilakukan dengan mengedepankan kompetensi dan akuntabilitas.
“Sinkronisasi dan konsolidasi menjadi penting. BAZNAS Jatim harus menjaga tata kelola sekaligus menjadi bagian dari penyelesaian persoalan mustahik dan memberikan dampak bagi masyarakat Jawa Timur,” ujarnya.
Saidah menyebut BAZNAS juga memiliki posisi strategis sebagai mitra pemerintah dalam membantu menangani berbagai persoalan sosial melalui pengelolaan dana zakat.
Usung Sembilan Prioritas
Setelah dilantik, Ketua BAZNAS Jatim H.M. Ghofirin menyatakan pihaknya siap membawa lembaga tersebut memasuki fase transformasi yang inklusif, profesional, dan memberikan dampak nyata.
BAZNAS Jatim akan menjalankan sembilan prioritas strategis yang dikemas dalam program Nawa Pradana. Program tersebut mengintegrasikan Asta Strategis BAZNAS RI dengan Nawa Bhakti Satya Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
“Nawa Pradana menjadi pijakan BAZNAS Jatim dalam mengoptimalkan pengelolaan zakat, infak, sedekah (ZIS), dan dana sosial keagamaan lainnya untuk kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur,” kata Ghofirin.
Sembilan prioritas tersebut meliputi BAZNAS Jatim Peduli, Cerdas, Sehat, Sejahtera, Lestari, Tangguh, Amanah, Inklusif, dan Sinergi.
Melalui BAZNAS Jatim Peduli, program diarahkan untuk memperkuat pelayanan kemanusiaan dan dakwah. Sasaran utamanya mencakup kelompok rentan seperti dhuafa, yatim, lansia, penyandang disabilitas, dan gharimin. Program tersebut juga mencakup dukungan terhadap hunian layak serta penguatan kegiatan sosial keagamaan.
Sementara BAZNAS Jatim Cerdas akan difokuskan pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemberian beasiswa, penguatan pendidikan vokasi, serta pemerataan akses pendidikan bagi masyarakat dhuafa.
Untuk sektor ekonomi, BAZNAS Jatim Sejahtera diarahkan pada penguatan kapasitas ekonomi penerima manfaat. Bantuan zakat diharapkan tidak berhenti sebagai bantuan konsumtif, tetapi berkembang menjadi modal bagi terciptanya kemandirian ekonomi.
Adapun BAZNAS Jatim Sinergi akan diarahkan untuk memperluas jaringan Unit Pengumpul Zakat (UPZ) sekaligus memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Kolaborasi tersebut melibatkan pemerintah, lembaga amil zakat (LAZ), dunia usaha, ulama, hingga lembaga pendidikan.
“Sinergi ini penting untuk mengoptimalkan pengumpulan serta pendayagunaan ZIS dan dana sosial keagamaan lainnya, sekaligus memperkuat literasi dan edukasi agar basis muzaki semakin luas,” pungkas Ghofirin.(*/Tj)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


