GRESIK | lampumerah.id – Gresik memiliki banyak cerita yang tumbuh dari perjalanan sejarah, budaya, hingga tradisi kulinernya. Cerita-cerita tersebut kembali dihadirkan dalam Festival Menjadi Gresik, yang digagas Yayasan Gang Sebelah di Kampung Kemasan.
Festival yang berlangsung hingga 30 Agustus 2026 ini, menjadi ruang pertemuan seni, budaya, sejarah, gastronomi, dan studi kultural untuk mengenalkan kembali kekayaan Gresik melalui beragam cara.
Rangkaian festival diawali dengan fine dinning bertajuk “Menjadi Gresik” melalui program Dapur Saji. Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani
yang membuka acara itu, bersama tamu undangan lainnya, diajak menikmati tiga kuliner yang memiliki keterkaitan dengan identitas dan sejarah Gresik, yakni bubur roomo, bandeng keropok, dan jenang jubung.
Ketiganya disajikan dengan pendekatan berbeda. Bubur rumo dipincuk menggunakan daun api-api atau mangrove. Bandeng keropok menggunakan bandeng tanpa duri yang di-grill dengan daun pisang. Sementara jenang jubung dihadirkan sebagai isian pia.
Penyajian tersebut menjadi cara untuk memperkenalkan kembali kekayaan kuliner Gresik melalui pendekatan yang lebih kreatif. Di balik setiap sajian, terdapat cerita mengenai tradisi, kebiasaan, dan perjalanan masyarakat Gresik yang terus diwariskan hingga hari ini.
Bupati mengapresiasi inisiatif Yayasan Gang Sebelah, yang menghadirkan sejarah Gresik melalui pendekatan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Alhamdulillah, malam ini kita bisa melihat langsung sejarah yang telah dikumpulkan oleh teman-teman komunitas seni dari Yayasan Gang Sebelah. Kita bisa bernostalgia melihat masa lalu Gresik, sejarah Gresik yang begitu luar biasa,” ujar Bupati Yani.
Menurutnya, memahami sejarah penting bagi generasi muda agar mereka tidak kehilangan akar dalam melihat perkembangan Gresik ke depan. Terlebih, perjalanan Gresik sebagai kota pelabuhan telah membentuk masyarakat dengan keragaman budaya, etnis, kuliner, dan tradisi.
“Sejarah adalah masa depan kita. Kita bisa melihat Gresik tempo dulu, Gresik yang begitu luar biasa. Gresik sebagai kota pelabuhan tentu memiliki perpaduan budaya, etnis, kuliner, dan macam-macam kekayaan yang bisa kita lihat,” katanya.
Bupati mendorong agar warisan budaya dan kuliner Gresik tidak berhenti sebagai peninggalan masa lalu. Pelestarian perlu dilakukan dengan cara yang membuatnya tetap dikenal, dinikmati, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Direktur Festival Menjadi Gresik Hidayatun Hikmah mengatakan, gagasan festival telah dibicarakan selama sekitar dua hingga tiga tahun sebelum akhirnya dapat terlaksana tahun ini.
Festival tersebut, kata Hidayatun, lahir dari keinginan untuk mengajak masyarakat mencintai Gresik melalui berbagai cara dan perspektif.
“Kami ingin mengajak teman-teman lebih mencintai Gresik melalui caranya masing-masing, melalui bidang keilmuannya masing-masing, melalui apa yang dirasakan masing-masing,” ujarnya.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


