GRESIK | lampumerah.id – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi, berkunjung ke Wisma Kebomas PT Petrokimia Gresik, Senin (22/6).

Kedatangan Menteri PPPA ini, untuk
mengunjungi sejumlah Tempat Penitipan Anak (TPA), salah satunya yang dikelola PT Petrokimia Gresik.

Kedatangan Menteri PPPA disambut langsung Direktur Utama PT Petrokimia Gresik, Daconi Khotob beserta jajaran, Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani, Wakil Bupati Asluchul Alif, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Direktur PT Petrokimia Gresik, Daconi Khotob memaparkan berbagai fasilitas dan program perusahaan dalam mendukung pekerja perempuan.

Ia menjelaskan, Perusahaan menyediakan sejumlah layanan yang ramah bagi pekerja perempuan.

Salah satunya adalah, keberadaan TPA yang telah beroperasi sejak 1993, yang tidak hanya diperuntukkan bagi anak pegawai perusahaan.

“Selain untuk karyawan Petrokimia Gresik, fasilitas tersebut juga dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum di sekitar perusahaan,” ujar Khotob.

Menteri PPPA memberikan apresiasi atas keberhasilan Gresik mempertahankan predikat Kabupaten Layak Anak (KLA) kategori Nindya. Menurutnya ini adalah bukti, bahwa hak-hak anak di Gresik benar-benar diprioritaskan.

Selain itu, Kabupaten Gresik juga mencatatkan capaian membanggakan dengan menempati peringkat ketiga nasional dalam Indeks Perlindungan Anak (IPA) dan Indeks Pemenuhan Hak Anak (IPHA) sehingga menjadikan Gresik sebagai yang terbaik di Provinsi Jawa Timur.

“Gresik saat ini berada di peringkat ketiga tingkat nasional untuk Indeks Perlindungan Anak, dan menjadi yang terbaik di Provinsi Jawa Timur. Ini luar biasa dan mudah-mudahan dapat terus dipertahankan serta ditingkatkan,” ujar Menteri Arifah.

Ia juga menyoroti langkah Pemkab Gresik dalam melindungi kelompok rentan. Salah satunya melalui keberadaan TPA Masmundari yang diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga pekerja rentan perempuan. Seperti pengemudi ojek online dan pekerja harian.

Selain itu, Arifah turut mengapresiasi perhatian Pemkab Gresik terhadap anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia, yang selama ini mengalami keterbatasan akses identitas, pendidikan, dan layanan kesehatan.

“Belum semua pimpinan daerah memiliki komitmen terhadap hal-hal seperti ini. Karena itu saya memberikan apresiasi kepada Bupati Gresik, dan mudah-mudahan upaya ini dapat terus berkelanjutan,” ungkap Arifah.

Bupati Fandi Akhmad Yani menyampaikan sebagai daerah industri terbesar di Jawa Timur, Gresik terus membangun sinergi dengan perusahaan BUMN maupun swasta untuk memperkuat perlindungan perempuan dan anak.

“Sebagai kabupaten industri, kami terus bersinergi dengan dunia usaha dalam isu perlindungan perempuan dan anak, pemenuhan hak-hak pekerja, serta kebijakan yang ramah perempuan. Hal-hal seperti ini terus kami diskusikan dan menjadi budaya di Kabupaten Gresik,” ujar Bupati Yani.

Tinggalkan Balasan