GRESIK | lampumerah.id – Dalam sebuah forum Global Talent for Sustainable Development di KJRI New York, Direktur Utama Petrokimia Gresik, Daconi Khotob membawa perspektif “Green Jobs: From Green Transformation to Green Talent”.
Menurutnya, perubahan menuju industri rendah karbon bukan hanya mengubah teknologi dan sumber energi, tetapi juga kompetensi tenaga kerja.
Engineer dan operator yang sebelumnya banyak berfokus pada keandalan serta kapasitas produksi, misalnya, ke depan juga perlu memahami efisiensi energi, energi terbarukan, manajemen karbon, serta teknologi rendah karbon.
“Engineer tetap engineer, agronom tetap agronom, dan akuntan tetap akuntan. Karena itu, penguatan talenta perlu dilakukan melalui reskilling, upskilling, pengalaman industri, serta kolaborasi lintas disiplin,” terangnya.
Penguatan talenta tersebut beriringan dengan transformasi operasional Petrokimia Gresik, yang memiliki roadmap dekarbonisasi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
Pada 2030 Petrokimia Gresik menargetkan penurunan emisi sebesar 30 persen, dibandingkan skenario Business as Usual (BAU) sebesar 3,46 juta ton CO₂e.
Salah satunya adalah rencana pengembangan green hydrogen untuk mendukung produksi (hybrid) green ammonia berkapasitas 250 MTPD, yang tengah dikaji Petrokimia Gresik bersama Pupuk Indonesia sebagai bagian dari transformasi energi perusahaan.
“Talenta hijau Indonesia perlu disiapkan dari sekarang karena transformasi industri hijau tidak menunggu kesiapan kita. Kolaborasi antara industri, pemerintah, perguruan tinggi, serta talenta Indonesia di dalam maupun luar negeri akan menjadi fondasi penting agar transformasi ini tidak hanya menurunkan emisi, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi,” pungkas Daconi.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


