Surabaya, LAMPUMERAH.ID – Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Timur kembali menggelar ajang East Java Investment Forum (EJIF) 2026 pada 1–2 Oktober 2026 di Surabaya. Mengusung tema “Empowering East Java as Indonesia’s New Growth Engine through Strategic and Sustainable Investment”, forum ini menjadi platform strategis untuk mempromosikan dan memfasilitasi berbagai Investment Project Ready to Offer (IPRO) di Jawa Timur kepada para calon investor domestik maupun mancanegara.
Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/BKPM Bidang Hubungan dengan Daerah, Dr. Ir. H. Didi Apriadi, M.Ak., M.H., hadir langsung sebagai salah satu panelis utama dalam sesi Panel Dialogue EJIF 2026 yang diselenggarakan Jumat (02/10/2026) di Grand Ballroom Lantai 4, Grand City Convex Surabaya, Jl. Walikota Mustajab No.1 Surabaya.
Didi Apriadi tampil dalam sesi tersebut dengan topik: From Investment Opportunities to Realized Investment: Making East Java’s Projects Bankable and Investable.
Dalam pandangannya, Didi Apriadi menilai Jawa Timur memiliki karakteristik investasi yang unik dan prospek pertumbuhan yang sangat kuat di tengah target pertumbuhan ekonomi nasional yang dipatok mencapai 8% pada 2029.
Karakteristik Unik dan Tren Positif Investasi Jawa Timur
Pada semester pertama, realisasi investasi nasional telah mencapai Rp1.010,6 triliun atau sekitar 40,9% dari target. Komposisi investasi tercatat seimbang antara PMA sebesar 50,2% dan PMDN sebesar 49,8%, serta distribusi yang hampir merata antara wilayah Jawa (49,8%) dan luar Jawa (50,2%).
DKI Jakarta masih memimpin sebagai tujuan utama investasi nasional, disusul ketat oleh Jawa Barat di posisi kedua dan Jawa Timur di posisi ketiga. Negara asal investor utama didominasi oleh Singapura, Hong Kong, China, Jepang, dan Amerika Serikat.
Jawa Timur mencatatkan kontribusi yang signifikan terhadap perekonomian nasional, yakni menyumbang 8,6% dari total investasi nasional sepanjang periode 2021 hingga 2024 dengan tren yang terus menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun. Realisasi investasi pada semester pertama tahun berjalan bahkan telah mencapai angka Rp72,70 triliun.
Kendati secara nasional komposisi investasi asing (PMA) dan domestik (PMDN) berimbang, Jawa Timur menunjukkan tren yang unik. Wilayah ini didominasi oleh penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang mencapai 69%, sementara penanaman modal asing menyumbang sekitar 22,91%.
“Di Jawa Timur ini kebalik, Pak. Kalau di pusat seimbang, di Jawa Timur justru domestiknya yang tinggi, mencapai 69%. Ini menunjukkan bahwa perkembangan perusahaan-perusahaan daerah dan local investment di Jatim memang sangat bagus,” ujar Didi Apriadi di hadapan para peserta forum.
Selain itu, peta asal negara investor di Jawa Timur juga berbeda dari tren nasional. Jika secara nasional didominasi oleh Singapura, di Jawa Timur Amerika Serikat menduduki peringkat pertama, disusul oleh Jepang di posisi kedua, Singapura, Hong Kong, dan China di peringkat kelima. Capaian ini menjadi tantangan sekaligus peluang strategis bagi daerah untuk terus meningkatkan daya tarik bisnisnya.
Sembilan Sektor Prioritas Investasi di Jawa Timur
Dalam mendorong realisasi proyek yang berkelanjutan agar bankable dan investable, Kementerian Investasi dan Hilirisasi memetakan sembilan sektor prioritas yang juga menjadi fokus pengembangan di Jawa Timur:
- Next-Gen Renewable Energy: Pengembangan energi baru terbarukan, termasuk target perluasan pemanfaatan PLTS.
- Hilirisasi Industri: Pengolahan komoditas mentah bernilai tambah, di mana terdapat sejumlah fokus pengembangan intensif di Jawa Timur yang mencakup sektor industri dan pariwisata.
- Ketahanan Pangan (Food Security): Penguatan sektor pertanian dan perkebunan terpadu.
- Semikonduktor: Pengembangan industri komponen berteknologi tinggi yang melibatkan kolaborasi bersama sektor pendidikan dan kampus.
- Ekonomi Digital & Pusat Data (Data Center): Penyediaan infrastruktur penunjang digital.
- Industri Manufaktur Berorientasi Ekspor: Penguatan basis industri pengolahan untuk pasar global.
- Industri Kesehatan: Peningkatan fasilitas pendukung kesehatan dan farmasi.
- Kawasan IKN: Sinergi rantai pasok dan penyediaan material strategis untuk pembangunan Ibu Kota Nusantara.
- Pendidikan dan Vokasi: Penguatan kualitas SDM, yang didukung oleh keunggulan khusus di Jawa Timur seperti keberadaan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) khusus pendidikan.
Strategi Percepatan dan Solusi Hambatan Investasi Daerah
Agar arus investasi dapat masuk, berjalan, dan memberikan dampak nyata bagi perekonomian daerah, Didi Apriadi menekankan pentingnya penerapan konsep Investment Project Ready to Offer (IPRO) secara matang. Hal tersebut perlu didukung oleh sejumlah langkah taktis:
- Kepastian Hukum dan Perizinan Cepat: Pemerintah daerah didorong untuk memaksimalkan penggunaan sistem Online Single Submission (OSS) serta menghadirkan inovasi pelayanan, seperti inisiatif percepatan surat pernyataan perizinan agar investor tidak perlu menunggu terlalu lama.
- Kelayakan Finansial dan Bankable: Penyusunan studi kelayakan (Feasibility Study) proyek harus berstandar tinggi dan memenuhi kriteria kelayakan perbankan agar mempermudah akses pembiayaan.
- Penguraian Hambatan Lapangan: Peran aktif Staf Khusus Bidang Daerah difokuskan untuk membantu menyelesaikan kendala teknis di tingkat lokal—mulai dari penyelesaian isu lahan hingga percepatan rekomendasi strategis perizinan (seperti penataan alur pelayaran dan logistik BUMD) guna mendongkrak pendapatan asli daerah dan mengeliminasi hambatan birokrasi.
Melalui penyelenggaraan EJIF 2026 ini, sinergi yang kuat antara Bank Indonesia, Pemprov Jawa Timur, BKPM, Kadin, serta para pelaku usaha diharapkan mampu semakin memperkuat posisi Jawa Timur sebagai salah satu motor penggerak utama pertumbuhan investasi nasional.(Luqman)
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


