GRESIK | lampumerah.id – Arus industrialisasi yang terus bergerak ke wilayah Pantura Gresik, dinilai membawa tantangan besar bagi kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat.
Ketua Bidang Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Gresik, Nur Faqih mengungkapkan Pantura dikenal memiliki fondasi keagamaan yang kuat, dengan ratusan pondok pesantren dan tradisi religius yang masih hidup di tengah masyarakat.
Namun, perkembangan kawasan industri membawa konsekuensi sosial yang harus diantisipasi sejak dini. Ancaman terbesar bukan berdirinya pabrik, melainkan perubahan sosial yang mengikuti masuknya investasi.
“Ketika wilayah utara mulai dipadati pendatang, maka akan muncul budaya-budaya baru. Ini yang tidak bisa dihindari dan harus dipersiapkan sejak sekarang,” ujar Faqih saat menjadi pembicara dalam Diskusi Kopi Gresik Episode 3 bertajuk “Red Zone Gresik: Industrialisasi Menggeser Kota Santri” di Djuwana Caffe, Kecamatan Dukun, Selasa (28/7) malam.
Nur Faqih menjelaskan, masyarakat Pantura perlu menyiapkan diri menghadapi era multikultural dengan memperkuat nilai Islam rahmatan lil alamin, toleransi, serta kemampuan beradaptasi terhadap keberagaman suku, budaya, dan agama.
Selain urbanisasi, ia juga menyoroti penggunaan gawai, media sosial, dan kecerdasan buatan (AI) yang semakin masif berpotensi menurunkan kepekaan sosial jika tidak diimbangi dengan budaya literasi dan kemampuan berpikir kritis.
“Kalau otak tidak dibiasakan berpikir dan hanya menerima informasi secara instan, maka kemampuan analisis dan kepekaan sosial bisa menurun. Karena itu pendidikan, pesantren, sekolah, dan keluarga harus bersama-sama membimbing generasi muda,” katanya.
Sementara itu, tokoh masyarakat Kecamatan Dukun, Agus Ahmad Mufidsalam atau Gus Salam, menegaskan industrialisasi tidak boleh dipandang sebagai ancaman semata.
Pesantren harus mampu beradaptasi dan mengambil peran strategis, dalam menyiapkan sumber daya manusia yang siap menghadapi kebutuhan dunia industri.
Ia menyebut banyak pesantren di Gresik kini mulai membuka sekolah vokasi dan pendidikan keterampilan sebagai bentuk respons terhadap perubahan zaman.
“Pesantren sudah mulai menjawab tantangan zaman, dengan membuka sekolah vokasi dan pendidikan keterampilan, agar para santri memiliki bekal yang cukup ketika memasuki dunia kerja tanpa meninggalkan nilai-nilai keagamaan,” ujar Gus Salam.
Diskusi menarik kesimpulan, industrialisasi dan kehidupan pesantren tidak harus dipertentangkan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, pesantren, dunia usaha, dan masyarakat, Gresik diyakini mampu berkembang sebagai pusat industri modern tanpa kehilangan identitasnya sebagai Kota Santri yang religius dan berbudaya.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


