SURABAYA, LAMPUMERAH.ID – Di tengah pesatnya perkembangan ekonomi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kemampuan memasarkan produk secara kreatif menjadi salah satu tantangan penting bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Tidak cukup hanya memiliki produk berkualitas, pelaku usaha juga perlu memahami perilaku konsumen, membangun identitas merek, serta memanfaatkan teknologi untuk memperluas pasar.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, dosen sekaligus praktisi pemasaran, Heny Tri Purnaningsih, S.E., M.I.Kom., akan meluncurkan buku terbarunya berjudul E-Bisnis & Kreatif Marketing pada 2026. Buku ini secara khusus dipersembahkan untuk pelaku UMKM kecil dan mahasiswa yang ingin memahami sekaligus mempraktikkan strategi bisnis digital.

“Saya persembahkan buku ini untuk rekan-rekan saya yang merupakan UMKM kecil dan mahasiswa-mahasiswi saya,” ujar Heny, Kamis (30/10/2026).

Bagi Heny, buku tersebut bukan sekadar kumpulan teori pemasaran. Ia ingin menghadirkan panduan yang dapat digunakan untuk memahami perubahan lanskap bisnis, menyusun strategi promosi, serta membangun usaha yang mampu bertahan di tengah persaingan pasar yang semakin dinamis.

Melalui buku ini, Heny berupaya mempertemukan pengalaman praktis di dunia industri dengan kebutuhan pembelajaran di perguruan tinggi. Harapannya, pengetahuan tentang bisnis digital tidak berhenti di ruang kelas, tetapi bisa diterapkan langsung oleh mahasiswa yang merintis usaha maupun pelaku UMKM yang sedang mengembangkan bisnisnya.

Ekonomi Digital Membuka Peluang Baru

Perkembangan ekonomi digital Indonesia menjadi salah satu alasan pentingnya penguatan kompetensi pemasaran. Laporan e-Conomy SEA 2025 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan nilai bruto ekonomi digital Indonesia atau gross merchandise value (GMV) mendekati US$100 miliar pada 2025, meningkat sekitar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dalam laporan yang sama, sektor perdagangan elektronik atau e-commerce diperkirakan mencapai GMV US$71 miliar pada 2025. Pertumbuhan ini memperlihatkan besarnya aktivitas perdagangan yang berlangsung melalui kanal digital, sekaligus membuka peluang bagi usaha kecil untuk menjangkau konsumen di luar wilayah pemasaran konvensional.

Perubahan tersebut membuat strategi pemasaran semakin penting. Pelaku usaha perlu memahami bagaimana konsumen menemukan produk melalui mesin pencari, media sosial, marketplace, konten video, hingga rekomendasi digital.

Informasi mengenai produk juga harus disajikan secara menarik, mudah dipahami, dan mampu membangun kepercayaan. Produk yang bagus belum tentu dikenal luas apabila tidak didukung komunikasi pemasaran yang tepat.

Di sinilah konsep e-bisnis dan pemasaran kreatif menjadi relevan. E-bisnis tidak hanya berkaitan dengan penjualan melalui internet, tetapi juga pemanfaatan teknologi dalam proses bisnis, pelayanan pelanggan, pengelolaan informasi, dan pengembangan hubungan dengan konsumen.

Sementara itu, pemasaran kreatif membantu pelaku usaha membedakan produknya dari kompetitor melalui ide, cerita, identitas merek, serta pengalaman pelanggan yang lebih berkesan.

Bagi UMKM dengan modal terbatas, pendekatan tersebut dapat menjadi alternatif untuk membangun daya saing tanpa harus selalu mengandalkan anggaran promosi besar.

UMKM Tidak Cukup Sekadar Go Online

Digitalisasi UMKM di Indonesia menunjukkan perkembangan yang semakin luas. Bank Indonesia mencatat, hingga Juni 2026, QRIS telah digunakan oleh 65,77 juta pengguna dan diterima oleh 44,86 juta merchant. Sebanyak 96,68 persen merchant tersebut merupakan UMKM.

Data itu memperlihatkan bahwa teknologi digital semakin terintegrasi dalam kegiatan transaksi masyarakat dan pelaku usaha.

Namun, keberadaan kanal pembayaran digital tidak otomatis membuat sebuah usaha berhasil memasarkan produknya. Pelaku UMKM tetap perlu memahami cara menyusun penawaran, menentukan target konsumen, membangun reputasi, serta mengevaluasi efektivitas promosi.

Tantangan tersebut juga tercermin dalam kajian Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang dipublikasikan pada Juli 2025. BRIN menyoroti sejumlah kendala digitalisasi UMKM, antara lain keterbatasan infrastruktur, akses permodalan, pemenuhan legalitas usaha, serta rendahnya literasi dan keterampilan digital.

Dengan demikian, persoalan UMKM bukan semata-mata bagaimana membawa usaha ke internet, melainkan bagaimana memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Pelaku usaha perlu mengetahui platform mana yang sesuai dengan karakteristik konsumennya, jenis konten apa yang efektif, serta bagaimana mengubah perhatian pengguna internet menjadi transaksi nyata.

Sebagai contoh, produsen makanan rumahan dapat memanfaatkan video pendek untuk memperlihatkan proses pembuatan produk, menjaga kualitas, dan membangun kepercayaan. Pengusaha fesyen dapat menonjolkan keunikan desain, bahan, serta cara penggunaan produknya. Sementara itu, usaha jasa dapat menggunakan testimoni pelanggan dan portofolio digital untuk memperkuat reputasi.

Aktivitas tersebut akan lebih terarah apabila didukung perencanaan pemasaran yang jelas, mulai dari penentuan sasaran, penyusunan pesan, pemilihan kanal promosi, hingga pengukuran hasil.

Dalam konteks itulah, buku E-Bisnis & Kreatif Marketing diharapkan dapat menjadi referensi praktis bagi pelaku usaha kecil yang ingin mengembangkan pemasaran secara lebih terencana.

AI Mengubah Cara Bisnis Menjangkau Konsumen

Selain media sosial dan perdagangan elektronik, kecerdasan buatan kini turut mengubah cara perusahaan dan pelaku usaha menjalankan pemasaran.

AI dapat membantu pekerjaan seperti mencari ide konten, menyusun konsep promosi, membuat variasi deskripsi produk, merangkum masukan pelanggan, serta mengidentifikasi kecenderungan pasar berdasarkan data yang tersedia.

Teknologi ini juga dapat dimanfaatkan untuk membantu penyusunan kalender konten, mengembangkan materi komunikasi yang disesuaikan dengan segmen konsumen, dan meningkatkan efisiensi pelayanan melalui chatbot.

Bagi UMKM yang belum memiliki tim pemasaran khusus, pemanfaatan perangkat AI berpotensi membantu menghemat waktu dan mempercepat proses produksi materi promosi. Mahasiswa yang sedang membangun usaha juga dapat memanfaatkannya untuk menguji ide bisnis, menyusun profil calon konsumen, serta merancang strategi pemasaran awal.

Meski demikian, penggunaan AI tetap membutuhkan kemampuan manusia untuk menilai kualitas hasilnya. Informasi yang dihasilkan perlu diperiksa, klaim promosi harus sesuai fakta, dan identitas merek tidak seharusnya dibangun hanya dari konten generik yang mudah ditiru kompetitor.

Aspek privasi dan keamanan data konsumen juga perlu diperhatikan. Pelaku usaha harus berhati-hati ketika memasukkan informasi pelanggan ke dalam perangkat AI, terutama apabila data tersebut bersifat pribadi atau rahasia.

Dengan kata lain, AI sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu untuk meningkatkan kemampuan berpikir dan bekerja, bukan sebagai pengganti pemahaman terhadap produk maupun kebutuhan pelanggan.

Perspektif ini sejalan dengan pengalaman Heny di bidang pemasaran. Ia tercatat pernah menjadi pemateri dalam AICONIC 2025 di Politeknik Negeri Malang (Polinema), dengan tema AI dan pemasaran digital. Dalam forum tersebut, pembahasan mencakup perubahan pemanfaatan AI dalam pemasaran, termasuk email marketing dan iklan yang ditargetkan kepada kelompok konsumen tertentu, dengan tetap memperhatikan kepercayaan serta privasi pengguna.

Pengalaman tersebut menjadi salah satu konteks yang relevan bagi pengembangan materi pembelajaran mengenai hubungan antara teknologi, komunikasi pemasaran, dan strategi bisnis.

Mahasiswa Perlu Menghubungkan Teori dengan Praktik

Bagi mahasiswa, pemahaman mengenai e-bisnis dan pemasaran kreatif memiliki relevansi yang semakin besar. Perkembangan teknologi telah mengubah kebutuhan dunia kerja sekaligus membuka peluang untuk membangun usaha secara mandiri.

Mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk mulai mempelajari kewirausahaan. Mereka dapat menguji gagasan bisnis melalui proyek kecil, melakukan riset konsumen, membuat konten promosi, membangun toko daring, dan mengevaluasi respons pasar.

Pengalaman tersebut membantu mahasiswa memahami bahwa menjalankan bisnis bukan hanya persoalan memiliki ide menarik. Mereka juga perlu mempelajari pengelolaan biaya, penentuan harga, pelayanan pelanggan, distribusi, serta konsistensi kualitas produk.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Administrative Sciences pada Juli 2025, berjudul Exploring the Diffusion of Digital Technologies in Higher Education Entrepreneurship, turut mengkaji hubungan pemanfaatan AI dan TikTok dengan pengetahuan kewirausahaan, pengalaman bisnis, serta kinerja usaha mahasiswa.

Kajian tersebut menempatkan teknologi digital sebagai bagian dari proses pembelajaran kewirausahaan. Namun, pemanfaatannya tetap perlu disertai pengalaman, kemampuan mengevaluasi informasi, dan pemahaman terhadap kebutuhan pasar.

Bagi mahasiswa yang ingin menjadi wirausahawan, kemampuan menyusun strategi pemasaran menjadi bekal untuk menguji apakah sebuah produk benar-benar dibutuhkan konsumen. Sementara itu, mahasiswa yang memilih berkarier di perusahaan dapat mengembangkan kompetensi dalam komunikasi pemasaran, pengelolaan merek, analisis pasar, dan pemasaran berbasis data.

Buku Heny diharapkan dapat membantu menjembatani kebutuhan tersebut melalui materi yang menghubungkan konsep bisnis dengan penerapannya.

Berangkat dari Pengalaman Industri

Heny memiliki latar belakang pendidikan ekonomi dan ilmu komunikasi. Ia juga memiliki pengalaman panjang di bidang penjualan, pemasaran, dan operasional ritel pada industri telekomunikasi nasional sebelum menekuni kegiatan pendidikan.

Berdasarkan profil profesional yang dipublikasikannya di LinkedIn, Heny pernah menempati sejumlah posisi pemasaran dan penjualan di lingkungan perusahaan yang bergerak dibidang telekomunikasi, termasuk bidang komunikasi pemasaran dan pengembangan penjualan regional.

Profil tersebut juga mencatat aktivitasnya sebagai dosen bidang pemasaran di Universitas Brawijaya sejak Agustus 2025 serta sebagai dosen industri di Politeknik Negeri Malang sejak Agustus 2024.

Pengalaman di industri dan dunia pendidikan tersebut menjadi modal untuk melihat persoalan pemasaran dari dua sisi. Di satu sisi, perusahaan membutuhkan strategi yang berorientasi pada target dan hasil. Di sisi lain, mahasiswa memerlukan pemahaman konseptual sekaligus latihan agar mampu menghadapi persoalan bisnis yang sesungguhnya.

Dalam pembelajaran pemasaran, pengalaman praktis dapat membantu mahasiswa memahami bahwa strategi tidak berhenti pada pembuatan iklan. Pemasaran juga melibatkan penentuan posisi merek, pemahaman perilaku konsumen, pengembangan produk, pengelolaan hubungan pelanggan, serta evaluasi kinerja.

Pendekatan tersebut relevan pula bagi UMKM. Pemilik usaha perlu mengetahui alasan konsumen memilih produknya, keunggulan yang membedakannya dari pesaing, dan cara menjaga pelanggan agar kembali melakukan pembelian.

Dengan pemahaman itu, pemasaran dapat menjadi bagian dari strategi pengembangan bisnis, bukan sekadar kegiatan promosi sesaat.

Tiga Fokus Utama Buku E-Bisnis & Kreatif Marketing

Heny menjelaskan, buku E-Bisnis & Kreatif Marketing disusun untuk membantu pembaca memahami fondasi bisnis digital sekaligus menerapkan strategi pemasaran yang lebih kreatif.

Ada tiga fokus utama yang ditawarkan dalam buku tersebut.

Pertama, wawasan strategis untuk membangun fondasi bisnis digital yang kokoh. Bagian ini ditujukan untuk membantu pembaca memahami pentingnya perencanaan usaha, pemilihan kanal digital, serta pengembangan model bisnis yang sesuai dengan kebutuhan pasar.

Kedua, taktik pemasaran kreatif untuk membuat sebuah merek lebih menonjol di tengah persaingan. Kreativitas diperlukan agar produk tidak sekadar hadir di ruang digital, tetapi juga memiliki identitas dan pesan yang mudah dikenali konsumen.

Ketiga, langkah-langkah praktis yang dapat diterapkan dalam aktivitas bisnis. Pendekatan praktis menjadi penting agar pembaca dapat menghubungkan pengetahuan dengan tindakan, kemudian mengevaluasi hasilnya berdasarkan respons konsumen dan perkembangan penjualan.

“Buku ini hadir bukan sekadar teori belaka, tetapi sebagai peta jalan yang lugas untuk menavigasi kompleksitas dunia bisnis online dan melancarkan strategi pemasaran yang benar-benar out of the box,” kata Heny.

Ia menilai, perpaduan antara pemahaman bisnis digital dan kreativitas pemasaran dapat membantu pelaku usaha menemukan pendekatan yang lebih sesuai dengan karakteristik produk serta konsumennya.

Bagi UMKM kecil, langkah tersebut dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memperbaiki informasi produk, memperjelas keunggulan yang ditawarkan, membuat konten secara konsisten, dan mencatat hasil promosi.

Sementara itu, bagi mahasiswa, proses tersebut dapat menjadi latihan untuk memahami hubungan antara riset pasar, strategi komunikasi, pengelolaan sumber daya, dan pencapaian target usaha.

Kreativitas Harus Diukur dengan Hasil

Di tengah banyaknya pilihan platform digital dan perangkat AI, kreativitas pemasaran perlu diikuti kemampuan mengukur hasil.

Jumlah tayangan, pengikut, dan tanda suka memang dapat memberikan gambaran mengenai jangkauan konten. Namun, indikator tersebut tidak selalu menunjukkan keberhasilan bisnis.

Pelaku UMKM juga perlu memperhatikan jumlah pertanyaan dari calon pembeli, tingkat konversi menjadi transaksi, biaya untuk memperoleh pelanggan, pembelian berulang, serta keuntungan yang dihasilkan.

Evaluasi tersebut membantu pemilik usaha mengetahui strategi mana yang efektif dan bagian mana yang perlu diperbaiki.

Misalnya, konten dengan jumlah penonton tinggi belum tentu menghasilkan penjualan apabila informasi harga tidak jelas atau proses pemesanan terlalu rumit. Sebaliknya, konten dengan jangkauan lebih kecil dapat memberikan hasil lebih baik apabila menjangkau calon pembeli yang tepat.

Penggunaan data sederhana semacam ini dapat membantu UMKM mengambil keputusan secara lebih terukur, sekaligus menghindari pengeluaran promosi yang tidak memberikan hasil memadai.

Dalam persaingan bisnis digital, kemampuan memahami data dan perilaku konsumen akan semakin penting, terutama ketika teknologi memungkinkan pelaku usaha memproduksi konten dalam jumlah besar dengan cepat.

Karena itu, kreativitas tidak cukup hanya menghasilkan materi yang menarik perhatian. Kreativitas perlu diarahkan untuk menjawab kebutuhan konsumen dan mendukung tujuan bisnis.

Membuka Jalan bagi Wirausaha Naik Kelas

Heny berharap buku E-Bisnis & Kreatif Marketing dapat digunakan oleh berbagai kalangan, mulai dari pelaku UMKM yang ingin memperluas pasar, profesional yang ingin meningkatkan kompetensi, hingga akademisi yang mengikuti perkembangan ekonomi digital.

Ia ingin pengetahuan mengenai bisnis digital dan pemasaran kreatif dapat diakses oleh lebih banyak orang, khususnya mereka yang sedang merintis usaha atau menghadapi keterbatasan sumber daya.

Bagi UMKM, penguasaan pemasaran digital dapat menjadi pintu untuk memperkenalkan produk ke konsumen yang lebih luas. Namun, keberhasilan memperluas pasar tetap harus ditopang kualitas produk, kesiapan produksi, pelayanan, pengelolaan keuangan, dan kemampuan memenuhi permintaan.

Bagi mahasiswa, pemahaman tersebut dapat mendorong tumbuhnya pola pikir kewirausahaan yang tidak hanya berorientasi pada gagasan, tetapi juga pada kemampuan mengeksekusi dan mengembangkan usaha secara berkelanjutan.

Sementara itu, bagi dunia pendidikan, penguatan literasi bisnis digital membuka peluang untuk menghadirkan pembelajaran yang semakin dekat dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.

Heny menegaskan, buku tersebut ditujukan untuk membantu pembaca memaksimalkan peluang yang muncul dari perpaduan e-bisnis yang efisien dan pemasaran kreatif.

“Apa pun peran Anda, baik wirausahawan, profesional, atau akademisi, buku ini adalah kunci untuk membuka potensi tak terbatas dari perpaduan e-bisnis yang efisien dan kreatif marketing yang memikat,” tutupnya.

Melalui buku ini, Heny berharap semakin banyak pelaku UMKM dan mahasiswa yang berani mengembangkan ide, memanfaatkan teknologi secara tepat, serta membangun strategi pemasaran berdasarkan kebutuhan pasar. Dengan demikian, transformasi digital tidak hanya menjadi tren, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat kemampuan berwirausaha dan meningkatkan daya saing.(Luqman)

Tinggalkan Balasan