GRESIK | lampumerah.id – Pemberian santunan Petrokimia Gresik untuk ratusan abang becak, dalam rangkaian HUT ke 54, menyisakan kisah tersendiri bagi Matkarim (70).
Ditemui di halaman SOR Tridharma Petrokimia Gresik Rabu (29/7) , usai penyerahan bantuan khusus untuk abang becak, Matkarim mengaku setiap kali menerima santunan dirinya selalu terharu. Bahkan tidak jarang juga berlinang air mata.
Karena setiap.kali mendapat bantuan, maka setiap kali itu pula, usianya pasti bertambah.
“Saya pertama kali mendapat santunan dari Petro, kalau tidak salah tahun 1981, hingga saat ini. Waktu itu masih belum banyak kendaraan, angkutan juga masih sedikit,” ujar Matkarim memulai cerita.
Sambil duduk di becaknya, yang kini sudah bukan lagi becak kayuh, lelaki yang masih terlihat gagah di usianya ke 70, mengaku dulu untuk mendapatkan bantuan dari Petro sangatlah mudah.
“Pokoknya kita mbecak di sekitar rumah dinas, pasti mendapat kupon. Dan ngambil bantuannya juga mudah, kita tukar kupon di gedung yang ada patung Kebo warna kuning (Wisma Kebomas) di dalam kompleks rumah dinas langsung dapat bantuan. Nggak kayak sekarang, yang dapat bantuan sampai ratusan orang, datangnya harus pagi dan antre. Untung dikasih jatah makan, jadi gak kelaparan sambil nunggu acara ada hiburan musiknya,” katanya tersenyum.
Meski begitu, Matkarim yang tinggal di Sukorame Kecamatan Gresik ini, sampai sekarang masih setia menjadi abang becak.
Bahkan dengan profesi yang digelutinya selama bertahun-tahun, dirinya bisa menghidupi kedua anaknya.
“Apalagi sekarang setiap tahun, kita diperhatikan oleh Petro melalui santunan berupa uang tunai. Ini sangat lumayan untuk orang seperti saya,” kata lelaki asal Tuban ini.
Meski semangat tetap membara, namun usia memang tidak bisa dipungkiri. Demikian juga dengan Matkarim. Meski masih terlihat gagah, namun ia mengaku sudah lelah dan tidak mampu lagi mengayuh becak apalagi untuk jarak jauh.
Namun Tuhan selalu bersama umatnya yang bersemangat. Beberapa waktu lalu, saat pemerintah daerah membagikan puluhan becak motor, nama Matkarim termasuk yang mendapat moda transportasi canggih itu.
Dengan becak moderen inilah, Matkarim kini kembali bersemangat mencari rejeki untuk keluarganya. Meski tidak lagi dengan mengayuh, namun keringatnya tetap mengucur untuk mendapatkan rejeki.
Namun ia tidak peduli. Baginya, keluarnya keringat tidaklah seberapa dibanding masa depan anak- anaknya.
“Saya akan terus menjadi tukang becak, sampai saya benar-benar tidak mampu lagi. Terimakasih Petro, bantuanmi adalah semangat kerjaku,” ujarnya.
Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.


