GRESIK | lampunerah.id – Di antara langkah peziarah dan aroma bunga tabur yang menguar di udara, kisah tentang Raden Sakti, sang pengelana dari tanah Pajajaran yang menemukan sunyi di Bungah, tetap hidup sebagai bagian dari sejarah spiritual masyarakat pesisir Gresik.

Setiap saat Hari Raya Ketupat, suasana berbeda terasa di kawasan Gunung Pentung, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik. Jalan kecil menuju kompleks makam tiba-tiba ramai oleh peziarah, pedagang bunga, serta warga yang datang membawa doa dan harapan.

Namun di balik tradisi itu, tersimpan sebuah kisah lama yang masih menyisakan misteri: keberadaan makam Raden Sakti, tokoh yang diyakini sebagai salah satu penyebar Islam di wilayah pesisir utara Gresik.

Di tengah rimbunnya pepohonan dan suasana yang dulu dikenal angker, kompleks makam ini perlahan berubah menjadi tempat spiritual yang selalu didatangi peziarah dari berbagai daerah.

Dari “Mbah Pentung” ke Raden Sakti:
Bagi warga Bungah generasi lama, nama Raden Sakti sebenarnya baru dikenal beberapa dekade terakhir. Sebelum tahun 1990-an, masyarakat setempat lebih akrab menyebut tokoh yang dimakamkan di Gunung Pentung itu sebagai “Mbah Pentung”, merujuk pada lokasi makam yang berada di perbukitan kecil tersebut.

Pemerhati seni dan budaya Gresik, Kris Aji, menuturkan nama Raden Sakti mulai terungkap setelah sejumlah dokumen lama ditelusuri.

Menurut cerita yang beredar dari para sesepuh, Raden Sakti diyakini masih memiliki garis keturunan dari Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran di tanah Sunda. Bahkan, disebutkan pula ia berasal dari wilayah Hariyan Kencana, Panjalu, Ciamis, Jawa Barat.

“Dalam beberapa catatan yang pernah saya baca, Raden Sakti dikenal sebagai sosok yang gemar berkelana. Perjalanannya membawanya sampai ke wilayah Bungah untuk mencari jati diri,” ujar Kris Aji.

Di tempat yang dianggapnya cocok untuk menenangkan diri itulah, ia kemudian menetap dan mendirikan sebuah padepokan.

Padepokan Sunyi di Tengah Wilayah Non-Islam:
Pada masa itu, menurut kisah yang diwariskan turun-temurun, masyarakat sekitar Gunung Pentung masih banyak menganut kepercayaan Hindu-Buddha.

Kedatangan Raden Sakti tidak hanya untuk bertapa atau menenangkan diri. Perlahan, ia juga menyebarkan ajaran Islam kepada masyarakat sekitar.

Dalam perjalanan waktu, padepokan kecil itu berkembang menjadi pusat spiritual yang dihormati warga.

Kini, di dalam cungkup utama makam, terdapat beberapa pusara yang diyakini sebagai orang-orang terdekat Raden Sakti, antara lain:
1. Mbah Gampang
2. Mbah Mireng
3. Mbah Maryam
4. Mbah Singo Rono

Mereka disebut sebagai cantrik atau pengikut setia , yang menemani perjalanan spiritual sang tokoh.

Di sekitar kompleks makam juga terdapat sejumlah makam lain yang tersebar, seperti makam Mbah Cukul di sisi timur, Mbah Asiman di sebelah barat, serta makam Mbah Sarah, Mbah Gomblo, Mbah Santri, hingga Mbah Gondang yang berada beberapa ratus meter dari pusat kompleks.

Ziarah, Isyarah, dan Lelaku:
Meski berada di kawasan perbukitan kecil, makam Gunung Pentung hampir tidak pernah sepi. Setiap hari, peziarah datang silih berganti. Ada yang sekadar membaca doa, ada pula yang menjalani lelaku spiritual dengan bermalam di sekitar makam

Bahkan tak jarang, beberapa orang tinggal berhari-hari hingga berbulan-bulan di kawasan tersebut.

“Banyak peziarah datang ke sini karena mendapat isyarah atau petunjuk dari guru atau kyai mereka untuk berziarah,” ujar Huda, juru kunci makam.

Fenomena itu akhirnya membuat Gunung Pentung menjadi salah satu titik ziarah spiritual, yang cukup dikenal di wilayah Gresik dan sekitarnya.

Haul yang Menyatu dengan Lebaran Ketupat:
Tradisi tahunan yang paling ramai adalah haul Mbah Raden Sakti, yang selalu digelar bersamaan dengan Hari Raya Ketupat.

Biasanya, rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi hari. Jalan menuju makam dipenuhi pedagang bunga tabur dan makanan, sementara para peziarah berdatangan untuk mengikuti istighosah, hadrah, tahlil, hingga ceramah agama.

Suasana religius berpadu dengan nuansa pasar rakyat yang hidup hanya setahun sekali.
Namun dalam beberapa kesempatan tertentu, kegiatan haul juga pernah dilakukan secara sederhana untuk menghindari kerumunan peziarah.

Misteri yang Belum Sepenuhnya Terungkap:
Meski cerita tentang Raden Sakti terus diwariskan, banyak bagian dari kisahnya yang masih belum terungkap secara utuh.

Dokumen sejarah yang terbatas membuat sosoknya lebih sering hadir dalam bentuk legenda, cerita rakyat, dan keyakinan spiritual masyarakat.

Yang pasti, Gunung Pentung kini bukan lagi tempat yang dianggap angker seperti dahulu. Kompleks makamnya lebih terawat, dan setiap hari selalu ada orang yang datang membawa doa.

Para peziarah datang dari berbagai desa di kecamatan Bungah, Manyar, Sedayu dan Dukun. Sebagian juga datang dari kabupaten Lamongan turut berziarah di makam Raden Sakti.

Ramainya para peziarah dimanfaatkan oleh pedagang bunga/kembang untuk berjualan, juga pedagang asongan yang turut mengais rezeki. Kegiatan ini bisa menjadi agenda rutin wisata religi yang ada di kecamatan Bungah.

Tinggalkan Balasan