GRESIK | lampumerah id – Pemerintah Desa Menganti Kecamatan Menganti, membantah isu yang beredar di media sosial (medsos), kalau warganya dipaksa membayar iuran untuk acara sound horeg.

Adapun keluhan tersebut diunggah oleh akun Threads @handiap_ yang mengaku mendengar keluhan warga Menganti melalui siaran salah satu radio di Surabaya, yang menyebut warga diduga diminta membayar iuran sebesar Rp1,5 juta per KK untuk kegiatan sound horeg.

Warga terancam dipersulit mengurus bantuan maupun perizinan di tingkat desa, bila tidak memenuhi permintaan tersebut.

“Perlu saya luruskan adalah, mengenai paksaan kepada warga untuk membayar itu tidak benar. Panitia tidak pernah memaksa warga membayar iuran untuk kegiatan sound horeg kemarin, jadi itu kabar hoaks,” ujar Kepala Desa Menganti Handoko, saat dihubungi, Senin (2/11).

Handoko menjelaskan, penggalangan dana untuk kegiatan sound horeg dilakukan secara swadaya oleh kelompok anak muda yang ada di lingkungan masing-masing, tanpa instruksi dari pemerintah desa maupun panitia penyelenggara kegiatan.

“Tidak ada paksaan, kemarin itu dananya sukarela. Jadi di Desa Menganti ini kan ada 41 RT, yang tidak ikut 20 RT. Sementara dari 26 yang ikut, tiga rombongan dibayar pribadi, satu di antaranya dari kumpulan emak-emak yang iuran sukarela,” terangnya.

Menurut Handoko, Pemerintah Desa Menganti maupun penyelenggara kegiatan merasa dirugikan atas unggahan tersebut. Sehingga, ada wacana bakal menempuh jalur hukum untuk meminta pertanggungjawaban dari yang bersangkutan.

“Kecewa karena hal tersebut tidak sesuai dengan kenyataan. Ini kami bersama penyelenggara kegiatan sedang membahas untuk menempuh jalur hukum, karena itu sudah mencemarkan nama baik, perilaku tidak menyenangkan, dan sudah menyalahi Undang Undang ITE,” ungkap Handoko.

Adapun kegiatan sound horeg tersebut diikuti sebanyak 26 kendaraan, yang bergerak dari Kawasan Teraland menuju Lapangan Desa Menganti, dalam rangka kirab budaya Sedekah Bumi Desa Menganti, Sabtu (31/10) malam WIB.

Sementara untuk rangkaian Sedekah Bumi sudah dimulai sejak 24 Oktober 2026, diawali dengan khataman Al Quran yang melibatkan tokoh agama dari tujuh dusun. Masyarakat juga menggelar tumpengan bersama dengan melibatkan 41 RT, 13 RW, LKMD, dan BPD. Termasuk, hiburan kesenian wayang kulit dengan menghadirkan Ki Dalang Suparno dari Gresik.

Tinggalkan Balasan